hanya sebuah cerpen
Aku menatap layar laptop dengan mata yang berair. Berita yang baru saja kubaca membuat dadaku sesak. Kebijakan baru pemerintah tentang kenaikan harga BBM dan tarif listrik akan mulai berlaku minggu depan, sementara gaji buruh tetap sama.
"Ini tidak bisa dibiarkan." mengetik cepat di grup WhatsApp mahasiswa.
"Kita harus turun ke jalan. Rakyat kecil sudah terlalu lama menderita."
Dalam hitungan menit, balasan mulai berdatangan. Ada yang setuju, ada yang khawatir, ada pula yang bingung. Tapi tekadku sudah bulat.
Beberapa hari kemudian, ruang auditorium kampus penuh sesak. Puluhan mahasiswa dari berbagai fakultas berkumpul, mereka penuh dengan amarah, kebencian, dan kebingungan.
"Kita akan demo dengan damai." tegas Andi, ketua PMI (Persatuan Mahasiswa Indonesia). "Bawa air mineral dan masker. Ingat, ini bukan tentang kita, tapi tentang jutaan rakyat Indonesia yang kesulitan."
Maya, mahasiswa semester akhir Ilmu Teknik, mengangkat tangan. "Bagaimana dengan media sosial? Kita perlu pastikan suara kita terdengar."
"Poin yang bagus," balasku. "Kita buat siaran langsung. Tapi ingat, kita ingin perubahan, bukan kerusuhan."
Diskusi berlanjut hingga larut. Mereka menyiapkan poster, spanduk, dan koordinasi dengan kelompok mahasiswa dari kampus lain.
Pagi itu, Bundaran HI sudah dipenuhi ribuan demonstran. Tidak hanya mahasiswa, tapi juga buruh, pedagang kecil, bahkan beberapa pensiunan ikut bergabung.
Aku berdiri di atas panggung kecil yang sudah disiapkan, pengeras suara di tanganku bergetar sedikit karena gugup.
"Semuanya, kita berkumpul hari ini bukan karena benci pada negara, tapi karena menyerukan aspirasi untuk semua rakyat!" serunya.
Tepuk tangan dan yel-yel menyahut dari kerumunan.
"Kami menuntut pemerintah untuk mendengarkan aspirasi rakyat! Kami menuntut kebijakan yang pro-rakyat, bukan hanya menguntungkan pemerintah."
Siang hari semakin panas, cuaca maupun suasana demo. Beberapa oknum mulai terlihat gelisah, ada yang membawa papan poster dan botol kosong.
Aku yang sedang merekam dengan kameraku melihat gerakan aneh. "Woi!" teriaknya sambil berlari menghampiri.
"Ada yang mau bikin onar. Mereka itu bukan dari kita."
Beberapa koordinator demo lainnya bergerak cepat, menjaga agar demo tetap kondusif.
Menjelang sore, sebuah mobil hitam berhenti di dekat lokasi demo. Seorang pria berjas perlente keluar, diikuti beberapa pengawal.
"Itu anggota DPR." bisik mahasiswa.
Kerumunan menjadi ricuh. Wakil Menteri berjalan mendekati panggung dengan langkah tenang.
"Semuanya," katanya dengan suara keras tanpa pengeras suara, "saya datang untuk mendengarkan langsung aspirasi kalian."
Aku dan teman-teman saling pandang, tidak menyangka akan ada dialog langsung.
"Kami tahu kebijakan ini berat bagi rakyat." lanjut ketua DPR. "Tapi kami juga butuh solusi yang logis."