Umat yang Dikelabui

Tugas cerpen Bahasa Indonesia

2025-12-02 02:46:14 - ImRa

“Peraturan baru tentang peningkatan pajak menjadi 60% secara sah ditetapkan oleh pemerintah mulai hari ini, tanggal 20 November 2075. Hal ini memicu banyak tanggapan dari masyarakat kelas sosial menengah ke bawah. Seperti yang bisa kita lihat sekarang, mereka tengah menyerbu kantor pusat Daerah A.”


                                      ***

22 November 2075


“Kakak! Aku pulang!” teriak Rina, memasuki rumahnya yang sederhana. Dia menghampiri kakaknya yang sedang menyiapkan meja makan. Makanan lezat telah tertata rapi di meja makan. Aroma makanan itu mencuri perhatian Rina, yang langsung meletakkan tasnya di pojok ruangan. “Wah! Kakak masak apa?” ucap Rina dengan senang.


“Makanan kesukaanmu, ayo kita makan sebelum dingin," ajak sang kakak.


Rina menanggapi ajakan itu dengan semangat. Mereka mengisi waktu makan malam itu dengan obrolan hangat. Rina terus bercerita tentang kegiatannya di kampus, tetapi wajahnya terlihat tertekan, seakan menyembunyikan sesuatu.


"Rin, ada apa? Apakah kamu memiliki masalah di kampus?" Kakak bertanya dengan lembut. Rina menggeleng sebagai jawaban.


"Aku hanya kelelahan, Kak. Tenang saja."


                                      ***

23 November 2075


Sinar mentari bersinar terang pada siang itu. Bel istirahat berdering kencang. Rina dan Ella sedang duduk di samping koridor kampus; menyantap makan siang mereka. Tidak ada percakapan di antara mereka, hanya tatapan canggung yang mengisi suasana aneh itu.


Akhirnya, Ella memulai percakapan. “Jadi, apakah kamu sudah mempertimbangkannya, Rin?”


“A-aku, aku bingung, Ell…”


“Jangan bingung terus, Rin. Waktu kita sudah mepet ini!”


“Aku tahu, Ell, tapi kita belum punya dukungan yang kuat.”


“Tentang dukungan, pasti kita bakal dapet, Rin.” Ella meraih tanganku dan menggenggamnya dengan erat. “Kumohon, Rin, banyak mahasiswa di luar sana yang sudah terjun langsung ke lapangan. Sekarang giliran kita!”


Rina menatap Ella ragu, raut wajahnya dipenuhi kebingungan. Rina menggigit bibir bawahnya sebelum memberi jawaban. “Aku juga mau ikut terjun ke lapangan, Ell, tapi kita juga harus mempertimbangkan hal lain juga.”


Ella terdiam. Dia melepaskan tangan Rina dan beranjak pergi, meninggalkan Rina yang duduk di sana, dengan bekal makanan kosong yang menemaninya.


                                      ***

24 November 2075


Ketukan pintu terdengar luar. Ibu RW terlihat berdiri membawa tas selempang di tangan kanannya. Ketukan terus terdengar sampai Kakak Rina membukakan pintu dan mempersilakan Bu RW untuk masuk. Kakak Rina dan Bu RW duduk bersama di ruang tamu.


Bu RW memulai pembicaraan dengan menanyakan keadaan mereka. “Apakah Ella ada di rumah?” tanya Bu RW dengan sedikit keraguan pada nada suaranya. Kakak Rina mengernyit penasaran.


“Untuk apa ya Ibu RW mencari Rina?” tanya Kakak.


“Ada sesuatu yang penting yang sangat Rina butuhkan saat ini,” tambah Bu RW.

Wajah Kakak Rina semakin khawatir karena Rina pasti selalu bercerita tentang segala masalah yang dimilikinya. “Memang…”


Rina memotong ucapan kakaknya di depan pintu masuk. “Bu RW? Ada apa Ibu ke sini?" tanya Rina penasaran.


“Rina, pas sekali,” panggil Bu RW.


Ketiganya duduk berhadapan. Bu RW mengeluarkan map berisi beberapa dokumen dan sejumlah uang. Rina dan kakaknya hanya menatap Bu RW dengan bingung. “Saya tahu kamu ingin berjuang demi negara ini bukan, Rina?” tanya Bu RW.


Rina mengangguk ragu. Lalu, Bu RW melanjutkan kalimatnya yang belum selesai. “Ini,” Bu RW menyerahkan map itu. “Ini pasti dapat membantumu, Rina,” ucap Bu RW, nada bicara tenang seperti air mengalir.


Kakaknya mencegah Rina untuk meraih map dari Bu RW. “Tunggu! Apa maksud dari semua ini apa, Rina?"


“Aku harus ikut membela kaum lemah Kak! Lihatlah kita! Sampai kapan kita akan seperti ini terus Kak?! Sampai kapan!” bentak Rina.


                                       ***

26 November 2075


Rina telah menyiapkan berbagai persiapan untuk demo besok. Matanya memancarkan semangat yang besar. Dia juga telah mengumpulkan massa untuk berdemonstrasi di depan gedung wali kota. Tekadnya terpancar dari raut wajahnya yang berani. Namun, di balik persiapan matang tersebut, sang kakak masih setengah hati untuk mengizinkan Rina mengikuti demonstrasi itu.


“Rina… kamu yakin?” tanya Kakaknya khawatir.


Rina memeluk kakaknya. “Kak, kita tidak boleh begini terus. Aku harus terjun ke lapangan,” tegas Rina.


  *Di sisi lain,*


Ruangan rapi dengan aroma wewangian yang menyengat menusuk hidung. Ella berdiri tegak di depan seorang wanita yang berpakaian jas rapi. Wajahnya tampak tegas dan berwibawa. Wanita itu duduk tegak, menghadap lurus ke depan. “Jadi, bagaimana perkembangannya?” tanya wanita itu.


“Aman, Bu Wali Kota. Saya telah memancingnya untuk mengumpulkan massa dan melakukan demonstrasi tepat pada tanggal 27 November besok, "Jawab Ella dengan sigap.”


“Bagus, Ella, tidak sia-sia aku memungutmu dulu,” ucap wanita itu. Nadanya licik dan menusuk. Terdapat kesenangan gelap di balik senyuman lebar yang terukir di wajahnya. 


“Sekarang, para tikus bawah tanah itu, satu persatu akan tertangkap.”


                                       ***


27 November 2075


Berbagai televisi menayangkan berita panas hari itu. “Demonstrasi besar-besaran di kota A telah menyebabkan kerusakan pada beberapa fasilitas umum setempat. Diduga, kemarahan massa dipicu oleh diberlakukannya peraturan baru yang dianggap tidak adil bagi kaum kelas menengah ke bawah, tetapi justru menguntungkan kaum kelas atas.”


“Dik, kamu harus pulang dengan selamat…”


                                      ***


1 Desember 2075


“Rina, kamu di mana? Kamu kok belum pulang… Kakak di sini kangen kamu. Kakak memasak makanan kesukaan kamu. Kakak juga membeli album musik kesukaan kamu. Pulang Rina, pulang Rin," tangis sang Kakak. Baju Rina di genggamannya basah oleh air mata. Dia mendekap baju putih itu erat-erat, berharap sang pemilik baju kembali ke dekapannya.


                                       ***


28 November 2075


Ella menyeret tubuh wanita yang telah kaku ke dalam sebuah ruangan yang dingin. Bu RW berdiri di samping pintu. Ia memperhatikan Ella yang berusaha meletakkan tubuh tak bernyawa itu di hadapan kursi empuk di tengah ruangan. “Baunya busuk,” komentar bu RW.


Ella hanya memutar bola matanya. “Ini perintah Wali Kota, kamu mau membantahnya?!” balas Ella dengan ketus.


Bu RW membukakan pintu lalu menunduk hormat, mempersilakan seorang wanita dengan jas rapi memasuki ruangan. Ella ikut menunduk hormat. Wanita itu memasuki ruangan sambil bertepuk tangan. Dia melangkahkan kakinya di sekitar tubuh tidak bernyawa itu dan duduk di atas kursi kebesarannya. “Semua tikus telah ditangkap,” ucapnya saat melihat tubuh tidak bernyawa itu. Senyum terukir di wajahnya yang dipoles riasan tebal. Kakinya menginjak kaki tubuh itu, wajah sombongnya menatap hina pada tubuh yang tergeletak membisu.


                                   — Tamat —

More Posts