๐๐ฎ๐ท๐ฐ๐ธ๐ป๐ซ๐ช๐ท๐ช๐ท ๐๐ช๐ท๐ฐ ๐ญ๐ฒ๐ฒ๐ท๐ฐ๐ช๐ฝ (๐ซ๐ช๐ฐ๐ฒ๐ช๐ท 1)
2025-12-02 01:08:06 - asaasz_
Di tengah hiruk-pikuk Yogyakarta 1929, ketika ide Hari Ibu mulai berkembang dari Kongres Perempuan Indonesia, hiduplah seorang perempuan bersama ibunya. Lestari, seorang perempuan berumur 17 tahun yang berstatus sebagai anak SMA. Lestari bukanlah tipe anak yang perhatian dan peduli, ia lebih suka menghabiskan waktu bersama teman-temannya di warnet sepulang sekolah hingga pulang larut malam, dibandingkan tinggal di rumah bersama ibunya. Namun, hal itu membuat Kusuma, ibunya selalu khawatir, sebab pulang larut malam bukanlah hal yang baik, apalagi Lestari seorang perempuan dan juga siswa. Tetapi dibalik sifatnya yang acuh tak acuh terhadap ibunya, Lestari menyimpan rahasia. sebenarnya ia hanya gengsi untuk memberikan kasih sayang terhadap ibunya, sebab teman-temannya bilang bahwa ibu hanyalah orang yang suka mengekang anaknya untuk tidak bergaul.ย
Kusuma adalah seorang janda, ia merawat Lestari dengan penuh kasih sayang, sebab Lestari adalah anak satu-satunya. Meski ekonomi mereka dapat dibilang rendah, Kusuma tetap berusaha menghidupi dirinya dan Lestari. Sebenarnya sepupu Kusuma yang merupakan keturunan bangsawan ingin membantu ekonomi keluarganya.ย
โBagaimana jika tiap bulan aku memberimu seperempat dari gajiku untuk menghidupi anakmu,โ kata Wijaya sambil tersenyum.
โTidak perlu, terima kasih atas bantuan yang kau tawarkan, namun selagi bisa, aku akan berusaha.โย
Tak hanya sampai di situ, Wijaya terus membujuk Kusuma agar mau menerima bantuannya yang sedikit itu. Hingga Wijaya berkata,
โBagaimana jika aku membantu anakmu untuk bersekolah? Sekolah saat ini mahal sekali, kau tidak akan mampu membayarnya, kasihan juga jika Lestari tidak bersekolah,โ Kata Wijaya tersenyum meyakinkan Kusuma untuk menerima bantuannya kali ini.
Akhirnya Kusuma menerima bantuan dari Wijaya, sebab ia harus menyekolahkan Lestari agar menjadi orang yang berpendidikan. โBaiklah, aku sangat berhutang budi padamu, terima kasih sudah mau membantuku yang tidak menguntungkan bagimu sama sekali.โ
โSama-sama, lagi pula aku ikhlas membantumu, kita sudah bersama sejak kecil dan kau selalu membantuku, anggap saja ini balas budiku padamu,โ senang Wijaya, sebab ia berhasil membantu adiknya.
Begitulah bagaimana Lestari bisa bersekolah, padahal ekonomi ibunya tidak mencukupi untuk ia sekolah. Sebegitu gigihnya Kusuma setelah menjadi janda, ia masih mengurus dan menyayangi Lestari sampai sebesar sekarang, dan rasa sayangnya tidak pernah berubah, masih sama saat Lestari kecil.ย
โIbu bagaikan malaikat tanpa sayap,โ kata Kusuma saat mengajari Lestari kecil membaca di bawah lampu minyak yang redup.ย
Namun, sekarang Lestari mulai terpengaruh oleh teman-temannya yang seringkali meremehkan peran ibu. Ia juga mulai enggan memikirkan ibunya sama sekali, padahal ibunya selalu mengkhawatirkannya. Ia pikir hari ibu yang sedang digagas para aktivis perempuan hanyalah omong kosong, sebuah hari di mana bunga dan kata-kata manis, bukan untuk perubahan nyata.
โApa gunanya hari khusus untuk ibu-ibu? Mereka kan sudah cukup dihargai menjadi ibu rumah tangga,โ katanya suatu malam kepada Intan, yang hanya tertawa. Padahal mereka juga seorang perempuan tetapi bagaimana bisa ia seperti itu.
Suatu siang yang cerah setelah bel sekolah berbunyi menandakan waktu pulang telah tiba. Lestari diminta oleh temannya, seorang aktivis bernama Indah untuk membantu mencetak undangan untuk acara awal peringatan Hari Ibu.ย
Meskipun masih SMA, Indah adalah bagian dari kelompok perempuan yang mendorong Kongres Perempuan Indonesia.ย
Ia mendatangi Lestari dengan ramah dan meminta bantuan untuk mencetak naskah yang dibawanya untuk acara Hari Ibu di sekolahnya nanti.ย
โIni bukan sekadar acara Tari,โ kata Indah sambil menyerahkan naskah itu. โIni tentang menghargai pengorbanan seorang ibu, aku dengar dari Intan, kau sering meremehkan peran ibumuโ.ย
Lestari terkaget, bagaimana Indah tahu itu, dengan ragu ia mengambil tugas yang diberikan Indah, meskipun hatinya masih skeptis. โBaiklah, aku hanya mencetak, tapi jangan harap aku akan mengikuti acara ini,โ jawabnya sinis dengan memutarkan bola matanya. Indah hanya menggelengkan kepala melihat Lestari.
Seperti biasanya, Lestari selalu pulang larut malam, ia pulang ke rumahnya di pinggir Sungai Winongo. Rumah itu tidak terlalu besar, namun menerangi pinggir sungai dengan cahayanya yang terang. Di tengah itu ada sesosok perempuan yang berada di luar rumah, menunggu dengan penuh khawatir kepulangan anak semata wayangnya.ย
โBagaimana hari ini, Sayang? Apakah menyenangkan?โ tanya Kusuma yang tidak dijawab oleh Lestari yang langsung memasuki rumah.ย
Sesampainya di kamar ia merasa seperti tidak enak badan, namun ia pikir hanya kelelahan saja dan ingin bergegas untuk tidur. Saat ia hendak tidur perutnya berbunyi, ia lupa belum makan malam sebab tadi ia berdebat dengan Indah. Lestari berjalan ke dapur untuk mencari makanan, sesampainya di dapur ia melihat Ibunya sedang memasak. Mendengar langkah kaki yang berjalan menuju ke arahnya, Kusuma langsung menoleh.
โKau pasti lapar, Ibu sudah memasaknya untukmu,โ sebenarnya Lestari sangat malas, tetapi dia lapar. โTerima kasih,โ jawab Lestari dingin. Kusuma tersenyum, jarang sekali Lestari berbicara dengannya, walau hanya sepatah kata.ย
Setelah memakan masakan ibunya, Lestari langsung memasuki kamarnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada sang ibu. Kusuma hanya bisa sabar menghadapi anaknya yang mulai berubah sikap kepadanya.