syakira. 3 weeks ago
kiirraay #bahasa

If Only She Hadn't Come To Me

BAGIAN 1

Malam itu, aroma manisnya roti bagaikan bayangan bagi Gemintang; jejak bau roti di sepanjang jalan yang telah ia lewati. Beberapa menit yang lalu, ia baru saja mengakhiri kebersamaannya dengan adonan-adonan yang didiamkan di lemari es—stok kue yang belum terjual habis di toko roti tempatnya bekerja. Malam itu sudah sangat sepi, tidak ada lagi pekerja yang menjaga toko roti itu kecuali Gemintang—karena menjalani shift kerja malamnya—Melewati jalan gelap itu bukanlah pilihan lagi, melainkan rutinitasnya dan jalan satu-satunya untuk pulang ke rumah.


Gemintang adalah sosok gadis yang entahlah bagaimana sifatnya. Secara fisik, Gemintang tak kurang; wajahnya simetris, mungil, senyumannya manis yang disertai dengan gigi kelincinya, sayangnya ia tak cukup aktif sebagai mahasiswa di awal tahun, Gemintang sangat suka menyendiri, bukannya ingin berbeda dari yang lain, tetapi ia masih terjebak di zona nyamannya. Iya, ia akan mengikuti berbagai kerja kelompok dan apapun kegiatannya yang membutuhkan kerjasama. Namun, datang lalu mengerjakan tugas sesuai perintah lalu pulang. Iya, dia punya banyak teman sejurusan yang membersamainya, ‘but no one prioritized her as their true one’.


Pukul 23.44, Gemintang masih di tengah perjalanannya menuju rumahnya melewati jalan yang tadi, banyak rumah-rumah yang tersusun di samping jalan dan taman bermain kecil di sebelah kanannya, kalau ia pulang pada sore hari, ia dapat melihat anak-anak yang bermain di sana. Sekarang Gemintang hanya seorang diri, tangannya dengan senantiasa menggenggam strap shoulder bag-nya yang berwarna putih pucat dan keychain-nya yang didapatkan dari blind box yang ia beli beberapa bulan yang lalu. 


Sayangnya, hari sial tak tertulis di kalender. Bughh!!


Karena tersandung sebuah batu saja, mau tak mau harus terhantam dengan aspal dan barang-barangnya-–Handphone, botol minum, dompet untuk menyimpan uang sakunya, Freshcare, Buku-buku kuliah; serta beberapa nota pembayaran—berserakan di aspal. “Astaga!” Refleksnya, ia segera duduk dari posisi jatuhnya, tangannya segera menyapu rambut pirangnya yang menutupi pandangannya. Lupakan rasa sakitnya, ia harus segera menata kembali sebelum ada yang melihat, termasuk serangga. 


Ah, lupakan kalimat terakhir tadi. Ketika ia hendak membereskan barangnya, ada seseorang perempuan yang tiba-tiba muncul dan membantunya. Gemintang langsung membeku pada saat itu juga, yang tadinya sedang menggenggam botol minum untuk dimasukkan ke dalam tas, malah berhenti begitu saja sambil mencoba mengarahkan pandangannya ke seseorang yang berada di depannya. 


Perempuan itu berbaju sederhana, rambutnya sedang, dan pastinya lebih tinggi daripada Gemintang. Mukanya berhasil tertangkap oleh penglihatan Gemintang, walaupun menunduk, perempuan itu sangat familiar, seperti seseorang yang pernah Gemintang temui di suatu tempat—kampusnya.


“Arisa?” Nama itu terucap dari bibir Gemintang tanpa filter, ia sangat yakin bahwa perempuan itu adalah perempuan yang cukup populer di kalangan universitasnya. “Kamu tahu namaku?” Arisa mendongak dan menatap Gemintang dengan tatapan heran di tengah-tengah ketika ia memasukkan barang Gemintang. Hal itu membuat Gemintang jadi gugup dan pikiran buruk mulai mengepungnya, 

‘Gemintang, harusnya kamu ga nyebutin namanya.. Malu! Dia ga kenal kamu’; ‘Gemintang, pikirin suatu alasan.. Terus kamu bilang makasih dan kabur.’


“Eh, bukan bukan! Aku kira kakak–ehm, tetanggaku yang namanya.. Ari...Arisanti! Ternyata salah orang, maaf, Kak,” Ucap Gemintang dengan spontan, ia segera mengalihkan pandangannya ke tangan Arisa yang tadi memegang tasnya. Dengan cepat, ia memasukkan nota yang tertinggal, menutup kembali tasnya dan berdiri walaupun badannya tak seimbang lalu membungkuk meski rasa malu masih membakarnya, “Terima kasih Kak sudah ngebantuin”. Belum sempat menjawab, ia kabur begitu saja meninggalkan Arisa sendirian dan menuju jalan pulangnya. Hitungan detik, Gemintang berbelok ke arah lain dan tak dapat dilihat lagi.


***


Hari esok tiba, Para mahasiswa sudah datang, mereka terlihat sangat segar. Obrolan, tawa, dan sapaan terdengar jelas di telinga Gemintang. Kalau boleh jujur, Gemintang kurang suka mendapatkan jam kelas MKDU di jam 8 pagi, ia lebih memilih untuk membersihkan kosnya di pagi hari dan melakukan pekerjaan rumah dan mengikuti kelas online, tetapi, Gemintang tak merasa pantas untuk mengeluh. Jadi, dia harus menerima hari-harinya dengan lapang dada. 


Hari ini suasananya agak berbeda untuk Gemintang karena kemarin malam dia telah melakukan kejadian yang menurutnya memalukan, ia jadi lebih was-was. Apalagi pagi ini kelas MKDU. Kalau diingat-ingat lagi, ia sering melihat Arisa di sekitaran area kampus saat jam istirahat setelah kelas MKDU. Gemintang spontan menggelengkan kepalanya untuk tetap fokus dan meningkatkan kecepatan langkahnya untuk pergi ke kelas.


“Gemintaaanggg!!” Seseorang menyapanya yang membuat Gemintang terkejut karena ia takut kalau itu adalah sapaan dari cewek populer kemarin malam, rupanya, sapaan itu berasal dari teman sejurusannya—Eyma. Gemintang menghembuskan nafasnya dengan lega, ia segera melambaikan tangannya ke arah Eyma dan berjalan bersamanya.


Namun, apakah di bagian selanjutnya Gemintang bertemu Arisa di Kampus hari ini?

Filosofi Ketupat Opor

Filosofi Ketupat Opor

https://lh3.googleusercontent.com/a/AGNmyxbI7dhMgZukXFeCcMSlsx8NvH0dBTFEnkHAFv0SUA=s96-c
corry aflah shinta
3 years ago

Petualangan Mencari Mahkota

Fantasy stories series 3/5

1772721324.jpeg
Datuk Belambangan
2 years ago
Tidak Hanya Blok M, Blok Ambalat Juga Butuh Disoroti

Tidak Hanya Blok M, Blok Ambalat Juga Butuh Disoroti

https://lh3.googleusercontent.com/a/AGNmyxY_-GwmwmulI3_C36t7KFnOYdKYOkWt-qZQnObB=s96-c
Nagita Puspa
1 year ago
Senapan yang digunakan Pejuang Kemerdekan Indonesia

Senapan yang digunakan Pejuang Kemerdekan Indonesia

1771834417.jpeg
Галих
1 year ago
Toko Roti

Toko Roti

1768888688.jpeg
Kusula
6 months ago