Kutukan Sungai Brantas di Kediri

2025-12-02 01:09:37 - Almira Quinsha

Di lembah subur Jawa Timur yang hijau seperti permadani zamrud yang tak berujung, berdirilah Kerajaan Kediri, sebuah negeri yang dulunya makmur bak pohon beringin yang akarnya menembus bumi. Raja Jayabaya, penguasa bijak dengan mahkota emas yang berkilauan seperti sinar matahari terbit, memerintah rakyatnya dengan ajaran Hindu yang penuh kedamaian. Ia dikelilingi oleh para brahmana yang tenang seperti danau yang tak pernah bergelombang, selalu siap memberikan nasihat spiritual. Putri Ken Dedes, anaknya yang cantik jelita seperti bunga teratai yang mekar di pagi hari, sering kali membantu ayahnya dalam urusan kerajaan, karena memiliki kecerdasan yang tajam seperti pedang yang tak pernah tumpul.


Sungai Brantas yang mengalir deras seperti nadi kehidupan yang tak pernah berhenti berdetak, menyirami ladang-ladang padi dan kebun buah-buahan yang bergoyang lembut dihembus angin sepoi-sepoi. Rakyat hidup dalam harmoni sempurna, di mana anak-anak belajar seni dan sastra di bawah pohon-pohon rindang sambil tertawa riang seperti kicauan burung, dan petani menuai hasil panen melimpah ruah, dengan tangan mereka yang kasar namun penuh syukur. Candi-candi megah berdiri kokoh, dihiasi relief-relief indah yang menceritakan kisah Ramayana, dan malam hari diisi dengan pertunjukan wayang kulit yang mengalun diiringi alunan gamelan. Namun, di balik kemakmuran itu, awan gelap mulai mengintai dari ufuk timur, seolah-olah takdir sendiri sedang merencanakan ujian pahit bagi negeri ini.


Suatu hari, Sungai Brantas mulai meluap liar, airnya yang dulu jernih kini keruh dan deras seperti binatang buas yang keluar dari kandang. Hujan yang biasa turun merata kini datang dalam badai dahsyat, seakan langit telah marah akan dosa manusia. Rakyat mulai menderita; ladang terendam banjir dan candi-candi runtuh seperti rumah kartu yang ditiup angin. Raja Jayabaya, dengan wajah cemas, memanggil para brahmana. "Apa yang terjadi pada sungai kita?" tanyanya, suaranya bergema seperti lonceng candi yang berdentang. Konflik muncul ketika para petani memberontak, menuduh raja telah mengabaikan dewa-dewa air. Di luar tembok kerajaan, desas-desus mulai menyebar. Kerajaan tetangga yang iri dengan kebijaksanaan Kediri, telah mengirim pasukan untuk menyerang, memanfaatkan banjir sebagai senjata. Bencana ini bukan sekadar musibah, melainkan perang diam-diam yang mengancam fondasi kerajaan, mengganggu siklus air yang suci.


Saat fajar menyingsing, mewarnai puncak gunung suci dengan semburat merah darah, Raja Jayabaya mengikatkan pedangnya, namun hatinya tidak merasakan ketenangan baja, melainkan ketakutan dingin seorang manusia biasa yang menghadapi murka tak kasat mata, ia tahu perjalanan ini bukan sekadar mencari sumber air, melainkan sebuah ziarah penebusan dosa pribadi, sebuah pertaruhan antara takhta Kediri dan pengampunan para dewa yang ia yakini telah ia khianati demi ambisi duniawi. Batin Raja Jayabaya bergejolak hebat, seolah-olah ia adalah Gunung Semeru yang di dalamnya menyimpan lahar rahasia, tahu bahwa tangisan pilu rakyatnya yang kehilangan ladang adalah gema dari keputusan tergesa-gesanya membangun bendungan besar itu, ia melihat pantulan wajah cemas Putri Ken Dedes dalam air keruh Brantas, dan setiap kilatan petir di langit yang marah terasa seperti cambukan takdir yang menuntut pertanggungjawaban atas keangkuhan manusia yang berani mengusik simfoni alam yang telah diatur oleh para dewa.


Ketegangan mencapai puncak ketika Raja Jayabaya memutuskan untuk naik ke gunung suci, tempat legenda mengatakan sumber air sejati bersemayam. Diiringi oleh brahmana setia dan putrinya, Putri Ken Dedes menghadapi badai hujan yang menderu-deru seperti singa marah. Di sana, mereka bertemu dengan roh penjaga gunung, makhluk mitos yang tubuhnya berasap seperti kabut pagi, dan matanya menyala seperti api gunung. Roh itu meraung, "Manusia tamak telah merusak sungai, mengganggu siklus air yang abadi!" Pertarungan spiritual pun pecah, mantra Raja Jayabaya beradu dengan kekuatan roh, sementara Putri Ken Dedes menggunakan doa untuk menenangkan angin yang bertiup kencang. Hujan turun deras, dan nyawa seakan tergantung pada seutas benang, ketika raja akhirnya memenangkan hati roh dengan pengorbanan diri yang tulus.


Setelah kemenangan itu, ketegangan mereda sejenak. Roh gunung tenang, tubuhnya yang berasap kini diam seperti gunung yang tidur. Raja Jayabaya dan rombongannya menemukan gua rahasia di puncak, tempat kristal air berkilauan seperti bintang jatuh. Di sana, mereka belajar bahwa banjir bukanlah kutukan, melainkan akibat penebangan hutan oleh manusia sendiri, sebuah ironi pahit yang membuat raja merenung dalam diam. Karena, Raja Jayabaya sendiri ialah yang secara rahasia telah membangun bendungan besar untuk mengalihkan sungai demi proyek irigasi pribadi, tanpa menyadari bahwa itu mengganggu keseimbangan siklus air dan memicu banjir. Putri Ken Dedes, dengan tangan gemetar, menyentuh kristal itu, dan tiba-tiba hujan mereda, membawa aroma harum hutan yang terlupakan.


Dengan pengetahuan baru dan pengakuan dosa, Raja Jayabaya kembali ke kerajaan dan memerintahkan penghancuran bendungan serta reboisasi besar-besaran. Sungai Brantas kembali tenang seperti nadi yang sehat, dan hujan turun merata membasahi tanah. Rakyat bersuka ria, ladang kembali subur, dan perdamaian pulih. Raja Jayabaya kini lebih bijak dalam mengajarkan generasi mendatang untuk menghormati siklus air sebagai bagian dari ajaran Hindu. Kerajaan Kediri pun berkembang abadi, sebuah kisah tentang bagaimana manusia bisa memperbaiki kesalahan dan menemukan harmoni kembali. Dan sungai itu, seperti teman setia, terus mengalir, mengingatkan bahwa kehidupan adalah siklus yang tak pernah

berakhir.


https://id.wikipedia.org/wiki/Sungai_Brantas

More Posts