Makna itu ada pada diri kita sendiri
Langit, awan, bulan, dan hujan kala itu. Aku berhenti sejenak dari kehidupan, aku mencoba untuk memahami makna hidup ini. Dari antartika, hingga Indonesia, aku mencoba untuk memahami makna sesungguhnya dari hidup. Ratusan hingga ribuan kata sudah terucap, tahun demi tahun sudah terlewat. Tetapi, aku masih belum mengetahui makna sebenarnya tentang hidup.
Di sini, di bawah guyuran hujan, aku baru menyadari satu hal, bahwa hidup, tidak memiliki makna tunggal untuk dimengerti. Aku terlalu sibuk mencari tahu makna dari kehidupan, hingga lupa untuk menikmatinya. Ternyata, makna itu bukan garis finish yang harus kita capai, bukan pula tugas yang harus kita selesaikan.
Makna itu ada, pada diri kita sendiri. Langit tidak pernah bertanya, mengapa ia harus biru, hujan juga tidak pernah protes mengapa ia harus jatuh ke tanah, dan menghilang. Begitulah kehidupan kita. Kita memiliki peran dan alur sendiri. Kita tidak ditugaskan untuk memahami segalanya, melainkan untuk sekadar menjadi bagian dari aliran itu. Menangis saat pedih, mencintai saat bahagia, dan bernapas saat masih diberi kesempatan.
Hidup, bukan tentang menemukan jawaban akhirnya, tapi tentang keberanian untuk terus berjalan, bahkan ketika kita tidak tahu ke mana kaki ini melangkah. Aku berhenti mencari dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku mulai merasa cukup. Hidup bukanlah teka-teki yang harus dipecahkan hingga tuntas. Hidup adalah serangkaian momen kecil yang kita lalui.
Dan malam ini, meski aku masih belum tahu jawaban besarnya, setidaknya aku tahu satu hal, aku ingin menikmati hujan ini. Satu tetes demi satu tetes, sampai ia reda dengan sendirinya.