Arrarars 6 days ago
kiirraay #bahasa

Why Did They Choose Us?

teman satu nasib (sort of cerpen)

Entah sejak kapan, lingkungan sekitarku benar-benar terasa sumpek. Sekolahku besar, ya, aku akui itu. Seluruh penjuru bangunan terasa luas dan selama ini mencukupi. Aku menatap lorong lamat-lamat. Perasaanku jelas berantakkan. Aku mengepalkan jemariku begitu kuat, hingga meresapi sensasi kuku-kukuku yang menancap tajam di telapak tangan. Buku-buku jariku memutih. Aku merasa terengah-engah. 


Benci. Aku tidak suka keramaian. Kenapa orang-orang harus tertawa begitu kencang? Kenapa orang-orang harus overreacting? Kenapa mereka tidak bisa berbicara dengan pelan? Kenapa banyak sekali orang-orang memenuhi jalan? Kenapa jalan mereka lambat sekali? Kenapa yang keluar dari kelas tidak habis-habis? Napasku bergemuruh. Pikiranku berkecamuk. Ini buruk sekali. Dua tahun terakhir, aku tidak pernah merasakan hal seperti ini. Aku tidak kuat. Lagipula, astaga! Kenapa diriku juga terus menerus bertanya kepadaku sendiri? Aku juga tidak tahu jawabannya! Ah, menyesakkan!


“Sharleen! Tunggu,” panggil temanku, Alley, yang hendak mencegahku untuk pergi meninggalkan dirinya begitu saja. Aku menghiraukan panggilannya, aku harus segera ke toilet, meluapkan emosiku di sana. Tidak ada yang bisa mencegahku, tidak ada yang bisa menahanku, tempat itu hanyalah tempat satu-satunya yang bisa digunakan. 


***


“Aku paham, Leen, aku paham. Kita senasib.” Aroma lezat mi instan tercium dari hidung kami. Sensasi hangat mi instan cup yang kami seduh terasa begitu menenangkan, seakan-akan bisa menembus sejuknya angin malam.


Semenjak kejadian tadi siang, Alley menyerah untuk mengejarku. Ia memutuskan untuk makan siang sendiri, tapi sebelum itu, ia sempat mampir ke kantin, membeli dua mi instan cup untukku dan untuk dirinya sendiri dan berencana untuk berbincang denganku di malam hari di loteng asrama, seperti itu yang dia ceritakan kepadaku. 


“Al, aku selalu bertanya-tanya, kenapa sih sekarang sekolah kita rasanya selalu sumpek setiap harinya, I mean, bisa ga sih, orang-orang tuh diam aja sehari. Terutama saat ada aktivitas moving class untuk pengerjaan projek besar-besaran sekolah. Kenapa harus digabung dengan murid-murid dari macam-macam kelas? Kenapa sih, tidak langsung satu kelas saja?” Aku mulai mencurahkan isi pikiranku. Selama ini, hanya Alley yang minat mendengarkan ceritaku, lebih-lebih lagi, dia mengalami nasib yang sama. 


Sekolah kami mengadakan projek besar-besaran satu tahun sekali. SMP dan SMA terpisah, masing-masing jenjang sekolah memiliki lima grup yang terdiri dari delapan anggota. Hal yang kami keluhkan pertama kalinya adalah kami ketua grup dengan siswi tingkatan baru terbanyak. Lebih menyakitkan daripada sakit gigi, lebih menyedihkan daripada kehabisan porsi makan siang, lebih melelahkan daripada mendengarkan amanat saat upacara. Kami berdua harus meratapi nasib yang sama. 


“Entahlah, tapi aku cukup senang sekarang sekolah kita semakin bertambah muridnya. Tapi jujur, aku juga sedih karena budaya sekolah kita yang sudah tertanam lama-lama pudar,” timpalnya dengan nada lesu, lantas Alley kembali menyantap mi miliknya. 


“Ya, itu maksudku! Terkadang, aku berpikir, mungkin mereka masih adaptasi. Tapi, aku khawatir mereka akan terbiasa dengan hari-hari tanpa menerapkan budaya atau–mungkin aturan tak tertulis di sekolah kita,” balasku, aku menghembuskan napas kasar. Setidaknya emosiku teredam dengan rasa lezat mi instanku.


Alley tersenyum pahit, mungkin sekarang dia juga mengingat kembali tentang siswa-siswa tingkatan baru, atau lebih tepatnya kelas VII, sangat antusias untuk menjalani jenjang SMP mereka di tahun pertama ini. Sangat antusias sampai suara mereka bagaikan ingar-bingar proyek pembangunan yang masih dalam proses pemotongan menggunakan gergaji mesin dan suara pukulan tuk-tuk-tuk yang nyaring dan tak kunjung berhenti.


Kami berdua kembali termenung. Pembicaraan kami mengalir begitu saja, setidaknya emosi kami terluapkan, isi pikiran kami juga tercurahkan. Percayalah, pembaca, rintangan yang kami lalui tak semudah dan sesingkat yang dituliskan di sini. Kalian harus tahu seantusias dan seberambisi apa adik-adik baru yang menggemaskan ini di sekolah kami sehingga muka kami terlihat selalu lesu tiap harinya—Kata guru dan teman-teman kami.

Resensi : Mengamati Pelanggaran Norma Melalui Cerpen Tas Temuan Joko

Resensi : Mengamati Pelanggaran Norma Melalui Cerpen Tas Temuan Joko

https://lh3.googleusercontent.com/a/AGNmyxY_-GwmwmulI3_C36t7KFnOYdKYOkWt-qZQnObB=s96-c
Nagita Puspa
2 years ago
Di Ujung Jalan

Di Ujung Jalan

1764252204.jpg
acoy
9 months ago
Resensi Buku Revered Back By Inggrid Sonya

Resensi Buku Revered Back By Inggrid Sonya

1726045596.jpeg
hanii
1 year ago
Apa yang terjadi jika astronot meninggal di luar angkasa?

Apa yang terjadi jika astronot meninggal di luar angkasa?

1759761337.jpg
Salisa Najwa
2 years ago
Jejak Tentara Bayaran Indonesia di perang Rusia-Ukraina

Jejak Tentara Bayaran Indonesia di perang Rusia-Ukraina

1777900926.jpg
Галих
5 months ago