Misi Malam Dini Hari
2026-04-26 14:58:28 - Gleeze Valencia
Misi Malam Dini Hari
Malam pertama dengan segenap kenangannya pada pukul satu dini hari. Malam dengan rembulan tersenyum terang ditemani bintang-gemintang, angin malam yang menyapu halus wajahku, kepakkan kelelawar mengagetkanku dan temanku, si Nurnayla. Rasa ragu berkecamuk di dalam dada kami; kami saling bergandengan tangan, bersitatap sebentar, saling mengangguk, dan meneruskan langkah.
Malam itu kami turun dari asrama, kaki kami keluar melalang jauh dari gerbang asrama. Kami terus melangkah turun melewati tangga sambil memperhatikan sekitar. Pandangan kami tertuju ke beberapa ruang kelas yang sepi dimakan kehampaan. Aku menelan ludah sebentar, mengencangkan gandenganku terhadap Nurnayla. Air mukaku menatap ragu kepada Nurnayla; rasa ragu tersebut masih mengganjal niatku malam itu.
Nurnayla tetap mengangguk, “Ayolah, kamu tidak akan membiarkan rasa lapar itu, kan?”
Aku tersenyum geli dengan niat kami malam itu dan tetap melanjutkan langkah menuju ruang makan. Malam itu kami, aku dan Nurnayla, nekat turun dari asrama sebab perut kami yang kosong keroncongan meminta makan karena kami melewatkan jadwal makan malam.
Saat langkah kami sudah menginjak lantai pertama, gelap gulita menyambut kami. Berdiri bayangan hitam di depan lift, memegang sebuah jeriken berwarna putih. Kami terkesiap, menahan napas. "Habislah kita," pikiranku berkeliaran antah berantah ke mana-mana. Sambil mencerna bayangan hitam yang berdiri tegap di depan lift, kami terus mengencangkan gandengan tangan, berdoa sehebat mungkin agar masalah tidak menanti di depan mata.
Saat lift terbuka, sekilas aku melihat wajah pemilik bayangan tersebut. Ya! Itu Bapak Kimia SMA. Aduh, namanya siapa, ya? Aku lupa. Segera aku menepuk-nepuk paha Nurnayla dan berbisik lirih, “Itu Bapak Kimia, aduh sebentar aku lupa namanya. Ya! Mr. Edrick.”
Nurnayla yang awalnya juga panik berpikir bahwa riwayat kami akan tamat dipanggil ke kantor asrama, akhirnya hanya menghela napas lega. Tunggu! Bukannya Mr. Edrick sekarang menjabat sebagai Direktur Asrama Putra? Aduh, bisa gawat. Bagaimana jika Mr. Edrick memberitahu Direktur Asrama Putri? Situasinya akan semakin kacau jika tahu kami keluar asrama tanpa seizin kakak pembina. Namun, aku menyeret temanku, si Nurnayla, agar tetap berjalan sebiasa mungkin agar tidak dicurigai.
Didukung dengan baju gamis kami yang berwarna gelap menyatu dengan gelapnya lorong lantai satu, Mr. Edrick hanya menoleh sekilas dan melangkah memasuki lift. Aku melirik sedikit ke arah lift yang mulai menutup dan berusaha mengatur ritme napasku yang sudah tidak karuan. Syukurlah, Mr. Edrick tidak mencurigai kami.
Malam itu kami memasuki ruang makan yang masih terhidang banyak makanan karena ibu dapur tidak mengambil makanan pada malam tersebut, memang rezeki rupanya! Ditambah masih berporsi-porsi makanan yang belum termakan, ternyata bukan hanya kami yang melewatkan jadwal makan malam. Kami segera mengambil makanan yang berupa ayam katsu dengan salad dan duduk sambil bercengkerama menggunakan suara yang amat sangat lirih, takut jika tiba-tiba ada pembina lewat dan menangkap basah kami yang sedang menikmati makanan.
“Aku tak percaya bisa melakukan hal ilegal pertama kali dengan alasan mendasar yang lucu; kelaparan.” aku berbicara sambil tersenyum geli, Nurnayla menimpali, “Ini pengalaman yang luar biasa dan aneh, aku akan menceritakannya ke adik kelas kelak.” Ia ikut tersenyum puas.
Aku melirik jam dan mengingatkan Nurnayla untuk mempercepat makan kami. Saat masalah perut kami sudah beres, tiba-tiba muncul seekor kucing dengan bulu berwarna oranye berlarik putih yang mengeong kelaparan. Nurnayla yang dasarnya memang pencinta hewan merasa sangat iba melihat keadaan kucing tersebut.
Aku menepuk dahi. Bukannya tujuan awal kita hanya makan, kenapa jadi sangat lama seperti ini? Segera aku menepuk lengan Nurnayla untuk mengingatkan keadaan kami yang masih "ilegal" turun malam-malam tanpa seizin pembina. Namun, tepukanku terkalahkan dengan rasa iba Nurnayla. Dengan cepat Nurnayla melangkah masuk kembali untuk mengambil sepotong kecil ayam katsu yang tidak termakan; ia memberikannya kepada hewan menggemaskan tersebut.
Aku menghela napas kasar. Okelah, tak ada salahnya menunggu sebentar. Dipikir-pikir, sangat kasihan jika meninggalkan kucing oranye tersebut dalam keadaan lapar, padahal kami juga tidak tahan akan rasa lapar kami dan nekat untuk turun ke lantai satu. Setelah menghabiskan tambahan waktu sekitar sepuluh menit di lantai bawah, kami dengan cepat melangkah naik ke asrama dan tetap berusaha agar langkah kami tidak menimbulkan suara kecurigaan.
Malam itu akhirnya, aku dan Nurnayla bisa terlelap dalam keadaan kenyang
~Tamat~