Pada suatu hari di pulau Karimunjawa yang tenang, hiduplah seorang pemuda bernama Adam. Ia bekerja sebagai nelayan untuk menghidupi istri dan anaknya yang sedang mengandung 7 bulan. Adam dikenal sebagai Si Sabar karena ia menjadi tulang punggung bagi keluarga kecilnya. Ia ditinggal bahkan hampir dibuang di sungai oleh orang tuanya sejak ia lahir, lalu seorang nenek menemukan Adam di pinggir pantai menangis kelaparan, lalu nenek itu mengambil bayi itu. Neneknya begitu sabar merawat Adam sampai dia menginjak usia remaja.
Adam tinggal bersama istrinya di gubuk tua dan sudah hampir roboh seperti tebing yang berusaha melawan derasnya ombak. Atapnya menggunakan daun kelapa yang sudah kering dan selalu bocor ketika hujan deras, dindingnya menggunakan anyaman bambu sehingga jika ada badai angin kencang gubuknya serasa bergoyang. Setiap harinya, ia berangkat pagi pulang pagi lagi demi mendapat sepeser rupiah walaupun terkadang upahnya tidak sebanding dengan kerja kerasnya.
Setiap harinya, Adam berdoa kepada Allah Swt. supaya diberi kekuatan dan mungkin keajaiban untuk menjalani hidup yang menyiksanya bagaikan kawat-kawat duri yang mencekik Adam kuat. Doanya begitu tulus sehingga tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Sejak kecil, dia tidak pernah merasakan bermain bersama dan bahagia seperti anak seumuran Adam kala itu. Justru, jika anak seumurannya mendapatkan pendidikan dan rumah yang layak untuk dinikmati, sejak kecil dia sudah bekerja memancing bersama kakeknya dan membantu neneknya berjualan jamu.
Masa kecilnya tidak pernah terlepas dari hidup yang malang tersebut, karena orang tuanya tega membuang Adam. Adam sendiri jarang meminta bantuan atau pertolongan kepada orang atau warga sekitar. Karena Adam percaya bahwa Tuhan pasti punya rencana yang paling indah yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Pagi itu, saat Adam hendak bersiap berangkat ke laut mencari ikan untuk dijual, sembari mempersiapkan perahu kecilnya untuk berlayar di laut lepas. Angin pagi itu berbisik lembut di telinganya, seolah mengajaknya untuk kembali ke tidurnya yang nyenyak itu. Cuaca di pagi itu cukup berangin dan dingin untuk iklim tropis di pulau Karimunjawa. Tetapi ia tetap berpegang teguh untuk bekerja keras meskipun lelah. Berkali-kali ia menarik jaring itu, tetapi tetap saja mendapatkan hasil yang kurang menyesuaikan dengan ekspektasinya. Ia mulai kelelahan dan frustasi, perutnya keroncongan. Rasa laparnya sebesar gunung yang menjulang tinggi hingga awan, yang membuatnya berpikir untuk menyerah saja. Tiba-tiba, saat Adam sedang putus asa dan mulai kehilangan semangatnya untuk berusaha dan terus bekerja, muncul ikan bermoncong panjang dan tajam, badannya ramping dan tegap, ikan itu berwarna biru dan putih bak laut, ikan itu begitu lincah melompat-lompat saat ditangkap olehnya, ikan itu bernama ikan todak.
Sontak, Adam langsung terkejut. Ikan itu bukanlah ikan yang normal; duri-durinya bagaikan mahkota raja yang terluka, ikan itu membuat Adam nostalgia untuk mengingat kembali pada semasa kecilnya saat neneknya selalu menceritakan ikan todak sebelum tidur. Bukannya ditangkap untuk dijual, justru Adam merasa ikan itu sepertinya sedang kesakitan sehingga entah apa yang ada di benaknya sehingga melepaskan ikan aneh di jaring itu ke laut lepas kembali. Ikan itu berkata, “Tolong saya!! Saya tersesat dan keluarga, teman, dan semuanya telah hilang diambil manusia kejam itu!” Adam yang terkejut dan hampir pingsan karena ikan itu bisa berbicara, entah itu halusinasi atau mungkin nyata—tetapi Adam lalu memberanikan diri untuk menolong ikan yang malang itu dengan kebingungan. “Wahai ikan, siapa namamu dan berasal dari mana habitatmu?” Lalu ikan itu menjawab, “Aku adalah ikan todak dan aku adalah ikan yang hampir punah. Kelompokku dimanfaatkan paruhnya untuk dijual dengan harga yang mahal. Aku tinggal di laut lepas dan berenang di lautan yang dulunya biru namun sekarang penuh sampah dan tidak lagi seperti dulu. Tolong selamatkan aku… jangan bunuh aku…” ikan itu memohon dengan menangis ketakutan. Adam yang sehari-hari mengeluh karena pendapatan ikannya yang sedikit, menjadi turut sedih dan ingin membantu dan membuktikan bahwa alam itu harus dijaga dan tidak rela jika ikan todak menjadi hewan punah.
Adam lalu menjawab, “Betapa malangnya kamu, aku tidak mungkin menjualmu, oke? Aku akan membantumu mencari keluarga dan teman-temanmu… Aku tahu betul di mana tempat persembunyian dan penyimpanan ikan-ikan yang hampir punah diletakkan.” ia melepaskan ikan itu perlahan-lahan walaupun tangannya terluka karena tergores duri ikan tersebut. Darah menetes ke air, tapi Adam tersenyum, yakin bahwa kebaikan itu akan kembali padanya suatu saat. Lalu, tiba-tiba ikan itu berbicara, “Terima kasih orang baik, sungguh mulia hatimu…Aku adalah penjaga laut yang tersesat karena keserakahan manusia. Kau telah menyelamatkanku, dan sebagai balasan, aku akan memberimu nasihat kebijaksanaan. Ingatlah, kehidupan ini seperti lautan yang tak bertepi, penuh badai dan tenangnya bergantian. Jangan biarkan kesulitan membuatmu lupa pada kejujuran dan kesabaranmu." Adam terharu mendengar nasihat bijak yang diberikan oleh seekor ikan. Ia lantaran meneteskan air mata yang tulus karena ia tak pernah mendapat nasihat paling menyentuh selama ia hidup, dan dinasihatkan oleh seekor ikan. yang selama ini hanya mendengar bisikan angin, kini berhadapan dengan mukjizat. Ikan todak melanjutkan, “Selanjutnya, kau kelak akan bertemu ujian yang cukup besar. Tolonglah sesama tanpa pamrih, dan Tuhan akan membuka jalan rezekimu. Tapi ingat, kebijaksanaan bukanlah kekayaan emas, melainkan hati yang murni." Setelah itu, ikan todak menyelam kembali ke kedalaman, meninggalkan riak air yang seperti senyuman laut yang tersipu.
Kembali lagi ke rumah setelah hampir seharian dari pagi hingga menjelang malam Adam bekerja, kelelahan lalu Ia menyempatkan untuk sholat Maghrib lalu berniat untuk merehatkan diri sejenak. Tiba-tiba, desa itu ramai warga berkumpul karena Pak RT, Pak Narto yang dikenal sebagai si Tekun, kapalnya menghilang entah ke mana. Semangatnya yang tak pernah pudar kini terbaring lemah. Adam ingat nasihat ikan todak. Meski perahunya sendiri butuh perbaikan, ia memutuskan untuk membantu. "Perahu Pak Karto adalah jembatan harapannya, bukan beban bagiku." Malam itu, kemudian Adam bekerja sendirian di pantai. Ombak bernyanyi lagu pengantar tidur di kejauhan, tapi Adam tak menghiraukan lelahnya yang menggunung seperti pasir pantai yang tak terhitung. Ia memperbaiki perahu Pak Karto dengan kayu sisa dan tali anyaman yang ia kumpulkan dari hutan mangrove. Proses itu memakan waktu hingga fajar menyingsing lagi tapi hatinya penuh damai.
Pagi berikutnya, saat Adam selesai, Pak Karto datang tertatih-tatih. Matanya berkaca-kaca melihat perahunya yang kinclong kembali. "Anakku, mengapa kau lakukan ini? Kau sendiri miskin," tanyanya. Adam tersenyum, "Kita adalah saudara di desa ini, Pak. Tolong-menolong adalah ikatan kita, seperti akar pohon beringin yang saling genggam." Selanjutnya, Pak Karto menceritakan rahasia: ia punya jaring pancing ajaib warisan ayahnya, yang jarang digunakan karena takut rusak. Sebagai terima kasih, ia meminjamkannya pada Adam.
Dengan jaring itu, Adam berlayar lagi. Laut kali ini murah hati; ikan-ikan berbondong-bondong masuk ke jaringnya. Tangkapannya melimpah, seperti hujan ikan yang turun dari langit biru. Tapi ujian sesungguhnya datang saat ia melihat perahu nelayan lain yang karam di karang. Pemiliknya adalah seorang pemuda sombong bernama Budi, terombang-ambing di air. Budi, yang dulu sering meremehkan Adam sebagai Si Miskin, kini memohon tolong.
Tanpa ragu, Adam mendayung mendekat. Ombak ganas mengaum marah, seolah menguji keberaniannya. Dengan kebijaksanaan dari nasihat ikan todak, Adam menarik Budi naik ke perahunya. "Jangan takut, saudaraku. Kesabaran akan membawa kita pulang," katanya. Budi yang keluarganya kaya tapi hatinya keras, tersentuh. Akhirnya, mereka selamat sampai pantai. Budi berjanji berubah dan akan belajar menghargai usaha orang lain.
Berita kebaikan Adam menyebar di desa. Setelah itu, warga desa bergotong-royong membangun gubuk baru untuknya. Pak Karto membagikan hasil tangkapannya dan Budi bahkan membantu memperbaiki perahu Adam. Rezeki Adam mengalir deras, bukan hanya dari ikan, tapi dari hati orang-orang yang kini menghormatinya. Ia menjadi teladan, mengajarkan bahwa kejujuran dan kesabaran adalah kunci kebahagiaan.
Suatu sore, saat duduk di pantai, Adam melihat riak air lagi. Ia tersenyum, tahu bahwa ikan todak itu masih menjaga. Laut adalah buku cerita kehidupan, penuh pelajaran bagi yang mau mendengar. Adam, Si Sabar, kini hidup damai, yakin bahwa Tuhan selalu memberi yang terbaik bagi hamba-Nya yang tekun.