Tanah Jawa yang Indah?
Kebun kopi pada kala itu..
2025-12-02 01:09:53 - matchaaaa
Tahun 1930. Aroma kopi yang baru dipetik adalah kebohongan terindah di Tanah Jawa.
Di puncak bukit, ada rumah Administrateur yang sejuk, tumbuh seorang gadis Belanda, bernama Lieke. Tidak seperti teman-temannya yang senang berpesta, Lieke lebih suka membaca buku dan menghindari keramaian. Ia selalu merasa tidak nyaman dengan perlakuan kasar bangsanya terhadap para buruh. Baginya, kebun kopi adalah penjara yang dingin.
Sementara di sisi lain, hiduplah seorang anak laki-laki pribumi, bernama Graha yang merupakan anak mandor kebun kopi milik keluarga Lieke yang memiliki tugas mengantarkan makanan di rumah besar bergaya Eropa itu.
Mereka dipisahkan oleh pagar kayu, oleh warna kulit, dan oleh ratusan tahun kekuasaan. Namun, di bawah pohon beringin tua, mereka saling menukar rahasia, menolak aturan yang memisahkan mereka.
Lieke, biasa bermain ayunan di bawah pohon beringin yang terletak di dekat kebun kopi keluarganya. Dengan sebuah buku di tangannya, ia ingin tahu bagaimana proses kopi dari kebunnya itu dibuat. Saat ia sedang tenggelam dengan pikirannya papanya memanggil
“Lieke, ke sinilah anakku,” panggil sang papa.
“Ya, Papa.” ucap Lieke menghampiri dengan berlari.
“Bagaimana, Papa?” Tanya Lieke sambil menggelayuti lengan sang papa.
“Papa akan pergi ke Bandung,” Jawab sang papa sembari mengelus rambut putri semata wayangnya itu.
“Lagi? Papa selalu pergi saat hari liburku,” Jawab Lieke lesu.
“Hanya sebentar putriku,” Jawab sang papa dilanjutkan menggendong sang putri.
“Sekarang, selama Papa pergi kamu akan ditemani oleh Graha,” sambung sang papa cepat.
“Graha?” Tanya Lieke dengan antusias.
“Iya, apakah kau senang?” Tanya sang papa sambil mencubit pipi Lieke.
“Aku sangat senang Papa, terima kasih,” Ucap Lieke girang dan langsung memeluk sang papa.
Tuan Johannes van Beek sangat senang melihat jawaban antusias putrinya. Ia percaya bahwa Graha, yang berusia lebih muda dibanding putrinya sekaligus anak mandor yang sangat ia percaya, akan menjadi penjaga yang patuh untuk menemani putri semata wayangnya selama ia pergi ke Bandung.
Pagi menjelang keberangkatan Tuan Johannes van Beek. Lieke sudah rapi, berdiri di teras rumah dengan gaun biru laut dan buku tebal digenggamannya. Tak lama, Graha datang dengan pakaian khasnya yang rapi, tetapi matanya menunduk, tidak berani menatap Lieke secara langsung.
“Selamat pagi, Nona Lieke?” Tanya Graha sopan.
“Pagi juga Graha, apakah kau sudah sarapan?” tanya Lieke riang, tanpa canggung dengan perbedaan status mereka. Ia melompat turun dari teras.
Lieke terkekeh. “Aku ingin tahu bagaimana kopi ini di sini dibuat. Aku membaca di buku, biji kopi harus diproses dengan air mengalir dan dijemur sempurna. Apakah di sini begitu?"
Graha terdiam. Pertanyaan Lieke sederhana, tetapi menyentuh inti dari kerahasiaan kebun. Ia tahu, Tuan Johannes van Beek tidak ingin putrinya tahu persis seluk-beluk proses produksi, terutama bagian yang melibatkan kerja keras para buruh dengan upah yang sedikit.
“Aku tau tempat yang enak, mau ikut?” Tawar Lieke ke Graha sambil berjalan karena menyadari ketegangan di antara mereka.
Graha ragu, tetapi ia harus mematuhi. Ia mengikuti Lieke hingga mereka mencapai pohon beringin tua di dekat batas taman dan kebun. Di bawah pohon itu, akar-akarnya menjuntai tebal, menciptakan ruang tersembunyi yang sejuk dan terlindung dari pandangan rumah besar. Ayunan tali yang sudah usang tergantung di salah satu dahan besar.
Lieke duduk di ayunan, membuka bukunya, tetapi ia tidak membaca. Ia menoleh ke Graha yang berdiri kaku dua meter darinya.
“Graha, di sini, tidak ada Papa, tidak ada pelayan lain. Aku hanya Lieke, dan kau hanya Graha,” katanya lembut.
“Aku tidak butuh penjaga. Aku butuh seseorang yang bisa menjawab pertanyaanku tentang tempat ini. Aku ingin tahu kebenarannya.”
Graha mengangkat pandangannya untuk pertama kalinya. Mata Lieke berwarna biru jernih, penuh rasa ingin tahu, bukan penghakiman.
“Apa yang ingin Nona ketahui?” tanya Graha, suaranya sedikit lebih yakin.
Lieke menutup bukunya, menunjuk ke arah gubuk-gubuk buruh yang terlihat samar di kejauhan.
“Di buku ini, kopi adalah ilmu pengetahuan yang indah. Tapi, mengapa orang-orang di sana selalu terlihat sedih, Graha? Dan mengapa Ayahku tidak mengizinkanku ke sana?”
Graha melihat sekeliling, memastikan tidak ada yang mendengar. Ia perlahan maju, duduk di atas akar beringin yang tebal.
“Jika Nona ingin tahu, Nona harus berjanji. Janji bahwa apa pun yang Nona lihat dan dengar di sini, di bawah pohon ini, tidak akan pernah keluar. Itu adalah Rahasia Tanah Jawa.”
Esoknya, Graha dan Lieke menyelinap. Mereka menyusuri parit irigasi yang licin dan rimbun, tempat aroma kopi bercampur dengan bau lumpur dan rumput liar. Setelah berjalan cukup jauh, mereka sampai pada sebuah air terjun kecil yang tersembunyi dibalik bambu-bambu.
“Di sinilah Nona, rahasia Tanah Jawa,” bisik Graha.
Di balik tirai air itu, bukan pemandangan indah yang ia dapatkan. Ia melihat sebuah lokasi tersembunyi, tempat para buruh yang sakit atau dianggap lalai dipaksa bekerja memilih biji kopi di bawah pengawasan seorang pribumi yang membawa rotan. Pemandangan yang tak pernah ia baca di buku-buku Eropa.
Lieke tertegun, di gudang ayahnya kopi dipilah di meja marmer, namun di sini kopi dipilah dengan air mata dan keringat di tanah yang becek.
“Ya, Tuhan.., mereka sakit, mereka kelaparan, anak-anak kecil seharusnya bersekolah bukan bekerja, harusnya mereka mendapat makanan yang layak bukan makanan busuk,” ucap Lieke berbisik, suaranya tercekat.
“Tuan Johannes van Beek sebenarnya peduli pada kami, akan tetapi pengawasan pemerintah Hindia-Belandalah yang terus menekan Tuan Johannes van Beek untuk berlaku kasar kepada kami,” ucap Graha memotong perkataan Lieke yang masih kaget.
“Mereka hanya peduli pada uang, gaji kami dipotong karena dituduh curang, tapi kenyataannya kami tidak diberi cukup makan untuk bekerja. Gaji yang seharusnya kami dapatkan juga dikorupsi oleh pejabat Hindia-Belanda bahkan landheer (tuan tanah) sehingga membebani rakyat kecil seperti kami yang tidak bisa apa-apa.” Lanjut Graha menambahkan.
Lieke menyentuh tangannya, yang selama ini hanya memegang buku. Kini ia mengerti mengapa ayahnya melarangnya mendekati kebun. Ia merasakan rasa malu dan marah yang membakar.
“Aku tidak tahu Graha…, semua kemewahan yang kami nikmati berasal dari penderitaan ini dan Papa, dia takut pada pemerintah bangsa kami bukan karena jahat sepenuhnya?” Tanya Lieke berbisik.
Graha mengangguk, sorot matanya melembut.
“Ayah Nona terjebak, tapi kami yang menanggung akibatnya. Kalau kami melawan, kami dituduh sebagai pemberontak dan akan dibuang ke Boven Digoel. Kami tidak punya suara, hanya landheer dan pejabat Hindia-Belanda yang punya.” Ucap Graha semakin memperjelas keadaan.
Lieke memejamkan matanya sejenak, mencerna semua ucapan Graha yang tak bisa ia percaya.
“Lalu bagaimana aku bisa membantu?” Tanya Lieke bingung.
“Nona punya yang kami tidak punya. Nona adalah mata dan telinga kami di dalam rumah besar itu.” Ucap Graha memandang Lieke dengan penuh rasa percaya.
Lieke terdiam, kini ia menyadari status sosialnya sebagai putri Administrateur yang selama ini ia benci menjadi berharga.
“Aku akan bantu, tapi kau harus mengajariku tentang kebun dan orang-orang di sini supaya aku tidak membuat kesalahan,” ucap Lieke memohon kepada Graha.
“Pasti Nona, mulai sekarang kita bukan tuan dan buruh. Tetapi kita adalah sekutu rahasia di bawah pohon beringin, kau adalah pikiran dan aku adalah pergerakan.”
Mereka berdua merangkak keluar dari balik air terjun. Di bawah naungan pohon beringin, tempat ayunan usang Leika tergantung, mereka membentuk ikrar persahabatan yang didasari oleh tujuan mulia; menggunakan pengetahuan dan akses mereka untuk meringankan beban para buruh dan menolak kekejaman sistem kolonial yang menjerat berbagai pihak.