Benar sekali, ada suatu kasus penyakit mental langka yang membuatmu seakan akan memiliki dua atau lebih kepribadian. Itulah yang disebut sebagai DID.
Dalam film atau novel, gambaran tentang "orang dengan kepribadian ganda" sering kali dramatis dan misterius. Namun, realitas Dissociative Identity Disorder (DID) atau Gangguan Identitas Disosiatif jauh lebih kompleks, penuh rasa sakit, dan terutama, merupakan suatu mekanisme bertahan hidup. DID bukanlah sebuah fenomena supranatural, melainkan respons psikologis yang dapat dimengerti terhadap trauma yang sangat berat.
Apa Sebenarnya Dissociative Identity Disorder (DID)?
Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5), DID merupakan gangguan disosiatif yang ditandai dengan:
Intinya, DID adalah gangguan pada integrasi identitas, memori, dan kesadaran. Seseorang tidak memiliki banyak "orang" dalam satu tubuh, melainkan satu identitas yang terfragmentasi karena upaya otak untuk bertahan dari pengalaman yang tak tertahankan, biasanya dimulai pada masa kanak-kanak sebelum usia 9 tahun.
Prevalensi DID sekitar 1.1-1.5% dari populasi umum, setara dengan gangguan mental serius lainnya. Lebih banyak didiagnosis pada wanita, namun hal ini mungkin karena bias pelaporan atau cara manifestasi gejala yang berbeda pada pria.
Tanda dan Gejala: Lebih dari Sekadar "Berganti Kepribadian"
Gejala DID seringkali halus dan bertumpang tindih dengan gangguan mental lain, sehingga menyulitkan diagnosis. Gejalanya meliputi:
1. Gejala Inti Disosiasi:
2. Gejala Penyerta yang Umum:
Penyebab: Trauma sebagai Akar Utama
Penyebab utama DID adalah pengalaman traumatis berulang yang berat dan tidak terhindarkan pada masa kanak-kanak, biasanya sebelum usia 6 tahun. Sekitar 90% kasus DID memiliki riwayat pelecehan (fisik, seksual, emosional) atau pengabaian (neglect).
Mekanismenya: Otak anak yang belum berkembang sepenuhnya menggunakan disosiasi sebagai pertahanan terakhir. Untuk bertahan hidup, ia "memisahkan" ingatan, emosi, dan pengalaman yang terlalu menyakitkan ke dalam kompartemen-kompartemen mental yang terpisah. Kompartemen-kompartemen inilah yang seiring waktu berkembang menjadi identitas yang lebih berbeda. Faktor lingkungan yang tidak suportif atau tidak adanya figur pengasuh yang aman memperkuat perkembangan gangguan ini.
Komplikasi: Dampak pada Kehidupan
Meski beberapa individu dengan DID dapat memiliki kehidupan yang tampak fungsional, gangguan ini membawa beban berat:
Diagnosis: Proses yang Hati-hati dan Sering Tertunda
Tidak ada tes laboratorium untuk DID. Diagnosis ditegakkan oleh psikiater atau psikolog klinis melalui:
Pengobatan: Menuju Integrasi dan Fungsi yang Lebih Baik
Tujuan pengobatan bukan untuk "menghilangkan" identitas lain, melainkan mencapai integrasi fungsional, yaitu komunikasi, kooperasi, dan harmoni antaridentitas, serta pemrosesan trauma. Ini adalah proses jangka panjang.
1. Psikoterapi (Terapi Bicara) sebagai Pilar Utama:
2. Obat-obatan:
Tidak ada obat khusus untuk menyembuhkan DID. Namun, obat-obatan seperti antidepresan, anti-kecemasan, atau antipsikotik dapat digunakan untuk mengelola gejala penyerta seperti depresi berat, kecemasan parah, atau gangguan persepsi.
Perawatan Mandiri dan Dukungan
Dukungan dari lingkungan sangat krusial:
DID dalam Anime: Analisis Wakaba Mutsumi dari "Ave Mujica"
Penggambaran Dissociative Identity Disorder (DID) dalam budaya populer kerap muncul dalam bentuk fiksi yang dramatis. Salah satu contoh analisisnya adalah karakter Wakaba Mutsumi dari anime Ave Mujica (waralaba BanG Dream!).
Alter sebagai Mekanisme Bertahan Hidup
Mutsumi, seorang gitaris berbakat, tumbuh di bawah tekanan media karena warisan bakat akting orang tuanya. Untuk bertahan dari beban ini, ia mengembangkan alter bernama Mortis—sebuah persona yang berfungsi sebagai "pelindung" dari kesengsaraan yang dirasakan kepribadian utamanya.
Konflik Internal yang Tragis
Kisah ini mempresentasikan dilema psikologis yang kompleks:
Tautan dengan Realitas DID
Meski disederhanakan untuk narasi, penggambaran ini menyentuh beberapa aspek DID:
Kesimpulan
Dissociative Identity Disorder adalah bukti luar biasa dari ketahanan jiwa manusia. Ini adalah cara otak menyelamatkan diri agar tetap bisa berfungsi di tengah badai trauma. Dengan terapi yang tepat, empati, dan dukungan berkelanjutan, penyintas DID dapat belajar untuk memproses luka masa lalu, membangun kehidupan internal yang lebih damai, dan menjalani hidup yang lebih utuh dan bermakna. Langkah pertama menuju pemulihan adalah mengganti stigma dengan pemahaman, dan ketakutan dengan kasih sayang.
Source :
https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10730093/
https://www.dovepress.com/revisiting-the-etiological-aspects-of-dissociative-identity-disorder-a-peer-reviewed-fulltext-article-PRBM
https://www.alodokter.com/kepribadian-ganda
https://bandori.fandom.com/wiki/Wakaba_Mutsumi
https://bandori.fandom.com/wiki/Mortis_(Alter)
Sebuah cerita fantasi karya Alyssa Nirmala Putri Kiai Demak