kazuminn 2 months ago
nafis-fr #sains

Kepribadian Ganda itu Nyata?!?

Benar sekali, ada suatu kasus penyakit mental langka yang membuatmu seakan akan memiliki dua atau lebih kepribadian. Itulah yang disebut sebagai DID.

Dalam film atau novel, gambaran tentang "orang dengan kepribadian ganda" sering kali dramatis dan misterius. Namun, realitas Dissociative Identity Disorder (DID) atau Gangguan Identitas Disosiatif jauh lebih kompleks, penuh rasa sakit, dan terutama, merupakan suatu mekanisme bertahan hidup. DID bukanlah sebuah fenomena supranatural, melainkan respons psikologis yang dapat dimengerti terhadap trauma yang sangat berat.


Apa Sebenarnya Dissociative Identity Disorder (DID)?

Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5), DID merupakan gangguan disosiatif yang ditandai dengan:

  • Adanya dua atau lebih status kepribadian (atau sering disebut parts/identitas/alters) yang berbeda, yang secara berulang mengambil kendali atas perilaku individu.
  • Amnesia disosiatif yang signifikan yaitu ketidakmampuan mengingat informasi pribadi sehari-hari atau trauma yang terlalu ekstensif untuk dikatakan sebagai kelupaan biasa.


Intinya, DID adalah gangguan pada integrasi identitas, memori, dan kesadaran. Seseorang tidak memiliki banyak "orang" dalam satu tubuh, melainkan satu identitas yang terfragmentasi karena upaya otak untuk bertahan dari pengalaman yang tak tertahankan, biasanya dimulai pada masa kanak-kanak sebelum usia 9 tahun.

Prevalensi DID sekitar 1.1-1.5% dari populasi umum, setara dengan gangguan mental serius lainnya. Lebih banyak didiagnosis pada wanita, namun hal ini mungkin karena bias pelaporan atau cara manifestasi gejala yang berbeda pada pria.



Tanda dan Gejala: Lebih dari Sekadar "Berganti Kepribadian"

Gejala DID seringkali halus dan bertumpang tindih dengan gangguan mental lain, sehingga menyulitkan diagnosis. Gejalanya meliputi:

1. Gejala Inti Disosiasi:

  • Depersonalisasi: Perasaan terlepas dari diri sendiri, seolah mengamati tubuh dan pikiran dari luar.
  • Derealisasi: Perasaan bahwa dunia di sekitar terasa tidak nyata, seperti kabur atau seperti dalam mimpi.
  • Amnesia: Kehilangan waktu, tidak mengingat kejadian penting, menemukan barang yang tidak dikenal, atau disebut orang telah melakukan sesuatu yang tidak diingat.
  • Identitas yang Terfragmentasi: Kehadiran identitas lain yang mungkin memiliki nama, usia, jenis kelamin, ingatan, perilaku, bahkan karakteristik fisiologis (seperti alergi atau kebutuhan kacamata) yang berbeda.

2. Gejala Penyerta yang Umum:

  • Depresi, kecemasan, dan perubahan suasana hati (mood swings) yang ekstrem.
  • Flashback dan gejala PTSD lainnya.
  • Gangguan tidur (mimpi buruk, insomnia, sleepwalking).
  • Halusinasi (biasanya suara-suara dari dalam kepala yang berasal dari identitas lain).
  • Gangguan makan, penyalahgunaan zat, dan rasa sakit kronis tanpa penyebab medis yang jelas.
  • Dorongan untuk melukai diri sendiri dan pikiran mengakhiri hidup.


Penyebab: Trauma sebagai Akar Utama

Penyebab utama DID adalah pengalaman traumatis berulang yang berat dan tidak terhindarkan pada masa kanak-kanak, biasanya sebelum usia 6 tahun. Sekitar 90% kasus DID memiliki riwayat pelecehan (fisik, seksual, emosional) atau pengabaian (neglect).

Mekanismenya: Otak anak yang belum berkembang sepenuhnya menggunakan disosiasi sebagai pertahanan terakhir. Untuk bertahan hidup, ia "memisahkan" ingatan, emosi, dan pengalaman yang terlalu menyakitkan ke dalam kompartemen-kompartemen mental yang terpisah. Kompartemen-kompartemen inilah yang seiring waktu berkembang menjadi identitas yang lebih berbeda. Faktor lingkungan yang tidak suportif atau tidak adanya figur pengasuh yang aman memperkuat perkembangan gangguan ini.


Komplikasi: Dampak pada Kehidupan

Meski beberapa individu dengan DID dapat memiliki kehidupan yang tampak fungsional, gangguan ini membawa beban berat:

  • Masalah Relasi: Kesulitan menjaga hubungan yang stabil karena amnesia, perubahan mood, dan perilaku yang tidak konsisten.
  • Gangguan Pekerjaan/Pendidikan: Produktivitas yang tidak stabil akibat gejala disosiatif.
  • Risiko Viktimisasi: Pola disosiatif dapat membuat individu rentan mengalami kekerasan berulang.
  • Kesehatan Fisik: Gejala konversi (nyeri tanpa sebab) dan pengabaian terhadap kesehatan diri.
  • Risiko Tinggi untuk gangguan kejiwaan lainnya, penyalahgunaan zat, dan mengakhiri hidup.


Diagnosis: Proses yang Hati-hati dan Sering Tertunda

Tidak ada tes laboratorium untuk DID. Diagnosis ditegakkan oleh psikiater atau psikolog klinis melalui:

  • Wawancara klinis mendalam yang dilakukan berulang kali.
  • Penggunaan alat asesmen terstruktur untuk disosiasi dan trauma.
  • Observasi terhadap gejala dan riwayat hidup pasien.
  • Seringkali, diagnosis baru ditegakkan setelah rata-rata 6-7 tahun mencari bantuan, karena gejalanya sering disalahartikan sebagai gangguan bipolar, skizofrenia, atau gangguan kepribadian.


Pengobatan: Menuju Integrasi dan Fungsi yang Lebih Baik

Tujuan pengobatan bukan untuk "menghilangkan" identitas lain, melainkan mencapai integrasi fungsional, yaitu komunikasi, kooperasi, dan harmoni antaridentitas, serta pemrosesan trauma. Ini adalah proses jangka panjang.


1. Psikoterapi (Terapi Bicara) sebagai Pilar Utama:

  • Terapi Berfase: Dimulai dari Fase Stabilisasi (mengelola gejala, memastikan keamanan), lalu Fase Pemrosesan Trauma, dan akhirnya Fase Integrasi & Reintegrasi.
  • Modalitas Terapi yang Efektif: Terapi yang berfokus pada trauma dan disosiasi, seperti Trauma-Focused Therapy, Terapi Perilaku Dialektikal (DBT) yang dimodifikasi, dan EMDR (Eye Movement Desensitization and Reprocessing) dengan protokol khusus untuk DID.


2. Obat-obatan:

Tidak ada obat khusus untuk menyembuhkan DID. Namun, obat-obatan seperti antidepresan, anti-kecemasan, atau antipsikotik dapat digunakan untuk mengelola gejala penyerta seperti depresi berat, kecemasan parah, atau gangguan persepsi.


Perawatan Mandiri dan Dukungan

Dukungan dari lingkungan sangat krusial:

  • Edukasi Diri: Memahami DID membantu mengurangi rasa takut dan isolasi.
  • Keterampilan Grounding: Teknik untuk tetap terhubung dengan realitas saat muncul gejala disosiasi (misal: menamai benda di sekitar, merasakan tekstur).
  • Jurnal Kesehatan Mental: Mencatat pengalaman untuk melacak pemicu dan pola.
  • Membangun Sistem Pendukung: Memiliki orang terdekat yang memahami dan mendukung proses terapi.
  • Pola Hidup Seimbang: Tidur cukup, nutrisi baik, olahraga ringan, dan menghindari zat yang dapat memperburuk disosiasi (seperti alkohol). 

DID dalam Anime: Analisis Wakaba Mutsumi dari "Ave Mujica"


Penggambaran Dissociative Identity Disorder (DID) dalam budaya populer kerap muncul dalam bentuk fiksi yang dramatis. Salah satu contoh analisisnya adalah karakter Wakaba Mutsumi dari anime Ave Mujica (waralaba BanG Dream!).


Alter sebagai Mekanisme Bertahan Hidup

Mutsumi, seorang gitaris berbakat, tumbuh di bawah tekanan media karena warisan bakat akting orang tuanya. Untuk bertahan dari beban ini, ia mengembangkan alter bernama Mortis—sebuah persona yang berfungsi sebagai "pelindung" dari kesengsaraan yang dirasakan kepribadian utamanya.


Konflik Internal yang Tragis

Kisah ini mempresentasikan dilema psikologis yang kompleks:

  • Mortis muncul untuk melindungi Mutsumi, namun justru tidak dapat memainkan gitar, menyebabkan bubarnya band Ave Mujica.
  • Terungkap bahwa Mortis secara tidak langsung memperpanjang penderitaan Mutsumi. Saat di band sebelumnya (CRYCHIC), Mutsumi merasa utuh sedangkan di Ave Mujica, ia tertekan.
  • Terjadi ironi tragis: "Mortis ada agar Mutsumi tidak sengsara. Namun, tanpa kesengsaraan, Mortis tidak memiliki alasan untuk eksis."
  • Pada klimaks cerita, kepribadian inti Mutsumi secara metaforis 'mati', sementara Mortis terpaksa bertahan dan belajar hidup tanpa fungsi perlindungannya—sebuah konflik yang disengaja dibiarkan belum terselesaikan.


Tautan dengan Realitas DID

Meski disederhanakan untuk narasi, penggambaran ini menyentuh beberapa aspek DID:

  1. Alter sebagai respons trauma terhadap tekanan yang tak tertahankan.
  2. Konflik dan amnesia fungsional antar identitas.
  3. Siklus penderitaan yang dapat terjadi tanpa intervensi terapeutik.


Kesimpulan

Dissociative Identity Disorder adalah bukti luar biasa dari ketahanan jiwa manusia. Ini adalah cara otak menyelamatkan diri agar tetap bisa berfungsi di tengah badai trauma. Dengan terapi yang tepat, empati, dan dukungan berkelanjutan, penyintas DID dapat belajar untuk memproses luka masa lalu, membangun kehidupan internal yang lebih damai, dan menjalani hidup yang lebih utuh dan bermakna. Langkah pertama menuju pemulihan adalah mengganti stigma dengan pemahaman, dan ketakutan dengan kasih sayang.

Source :

https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10730093/

https://www.dovepress.com/revisiting-the-etiological-aspects-of-dissociative-identity-disorder-a-peer-reviewed-fulltext-article-PRBM

https://www.alodokter.com/kepribadian-ganda

https://bandori.fandom.com/wiki/Wakaba_Mutsumi

https://bandori.fandom.com/wiki/Mortis_(Alter)

Kisah Nuaiman, Sahabat Rasululah SAW yang Ingin Menjual Temannya Sendiri

Kisah Nuaiman, Sahabat Rasululah SAW yang Ingin Menjual Temannya Sendi...

https://lh3.googleusercontent.com/a/AAcHTtdGSC-4tJu0GSVhJhWaL17Y4Nj_9JS0uMP28p9QmlBg=s96-c
alhfzhz
2 years ago
Kentang

Kentang

https://lh3.googleusercontent.com/a/AGNmyxbYTdpsqltV3rCnYm_dmeDyB_XCFirXf6djaGVz=s96-c
elghifari
2 years ago
Ubi Jalar pengganti Beras

Ubi Jalar pengganti Beras

1691587270.jpg
Andreans
2 years ago

Cerita Narasi: Si Moth-Born

Sebuah cerita fantasi karya Alyssa Nirmala Putri Kiai Demak

https://lh3.googleusercontent.com/a/AAcHTtdGmF2e-ItdsdYE9TgImFhDGKHoAxklhdWBSBppAr7_YA=s96-c
Fitri Isnaeni
2 years ago
Gen's Betrayal

Gen's Betrayal

1725636421.jpeg
ヒンメル
2 years ago