toko.
"No words appear before me in the aftermath" - bigger than the whole sky, Taylor Swift
2025-12-02 03:17:53 - iykyk
Banyak orang yang menganggap hujan adalah tangisan semesta. Dalam perspective-ku, hujan adalah upaya terakhir semesta untuk menghapus kesalahannya yang tak sempat ia perbaiki. Bagaikan penghapus murahan yang hanya menghabiskan dirinya. Seperti pasir di jalanan. Mereka pikir pasir itu akan hilang setelah badai deras, tapi sebenarnya mereka hanya bersembunyi di sela-sela dunia.
Udara sore itu dingin, jauh lebih dingin dari biasanya. Apakah payung tuaku dapat menjagaku kering? Tidak, lubang di payungku sudah menentang prinsip kenapa payung diciptakan. Aku terpaksa pulang menenteng sepatuku. Aku tidak pernah bersemangat pulang. Aku selalu harus mengatasi kekacauan di rumah. Sungguh, aku bersyukur memiliki atap di atas kepalaku, tapi aku masih belum punya sebuah tempat yang dapat kupanggil rumah. Tempat tinggalku terasa seperti sebuah tempat yang hanya aku tiduri di malam hari, tidak ada rasa nyaman maupun rasa aman. Dadaku masih berat. Aku masih teringat perdebatan kecil dengan adikku tadi pagi, tentang siapa yang tidak memasukkan jemuran baju saat hujan. Lebih buruk lagi, ibu mulai ikut campur. Seperti biasa, ia membela adikku dan menjawab dengan aduan nilai dan hal-hal remeh lainnya tentangku. Menurutnya itu motivasi, tapi itu selalu membuatku berpikir dua kali tentang pencapaianku. Jika ibuku tidak peduli, pencapaian itu tidak penting.
Hujan semakin deras. Saat aku melihat jam, dadaku semakin berat. Jarum jam menunjukkan pukul 16.30. Ibu akan lebih marah jika aku pulang telat. Ia akan menceramahiku tentang “ketidakdisiplinanku” karena aku “bermain”. Ia juga akan menambahkan argumen tambahan tentang bagaimana anak-anak lain seumuranku sudah bekerja.
Untuk mempersingkat jarak, aku memilih untuk masuk ke sebuah gang kecil yang biasanya tidak aku lewati. Dinding rumah yang awalnya lebar mulai menyempit. Kepalaku hampir teremas. Setelah beberapa lama hampir tersesat di gang itu, aku mulai melihat jalan keluar. Ketika aku keluar dari gang, aku melihat belakang tempat tinggal kecilku, sebuah minka tradisional berlantai satu, warisan dari nenek. Saat aku mulai berlari untuk bergegas menuju tempat tinggalku, kakiku tersandung sesuatu. Tubuhku kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh. Saat aku melihat ke bawah, ada sebuah pot besi untuk dupa. Kebingungan, aku mengambil pot itu dan melihat kesana-kemari. Tidak terlalu jauh, seorang kakek-kakek tua berdiri, terlihat kebingungan. Di belakangnya adalah sebuah toko antik. Melihat pot itu kembali, aku mempunyai firasat ini adalah pot miliknya yang telah tergelinding. Aku menyempatkan diri untuk memberikan pot itu kepadanya.
“Permisi Pak, ini milik Bapak, ya?” aku bertanya sambil tersenyum.
“Ya, aku telah mencarinya ke mana-mana. Terima kasih anak muda, kau benar-benar baik hati.”
“Dengan senang hati Tuan …” kataku sambil membungkuk ringan.
Kakek tua itu memperhatikanku dan akhirnya berkata, “Anak muda, apakah kamu menginginkan pekerjaan? Kau bisa membantuku bersih-bersih. Akanku bayar 1,500 yen per hari jika kau mau.”
“Hah? 1,500 yen? Ya! Dengan senang hati Pak!” aku mengatakan dengan bersemangat, “Perkenalkan, nama saya Kaito, Pak.”
Kakek itu tersenyum, “Kau bisa panggil aku Kuroda.”
***
Aku membuka pintu pelan-pelan lantas mengintip ke kamar ibu, ia sedang tidur dengan Riku, adikku. Kali ini aku aman, aman dari seminar ibu yang sangat memotivasi. Saat aku masuk ke ruang makan, aku melihat ayahku, sedang memasak telur. “Otosan pulang? Bagaimana hidup di laut?” kataku bersemangat sambil memeluknya. Di dunia yang tetap berjalan hanya untuk kepentingannya, pria ini hanyalah orang yang menyempatkan diri untuk berjalan di sampingku. “Aku juga merindukanmu Kai.” katanya sambil tersenyum.
Kita duduk di meja makan dan mulai menyantap. Beberapa menit pertama, meja makan sunyi, tenang, seperti yang aku suka, tapi semua dihancurkan oleh satu kalimat, “Kai, nilai bahasa Jepang kamu berapa?” Riku bertanya dengan senyuman jahilnya. “B+, kenapa?” jawabku datar, masih memperhatikan makananku.
“HAH! Aku dapet A-!”, Riku berkata sambil tertawa jahil.
“Riku!”, sahut Ayah.
“Lihat adikmu, tidak sia-sia dia belajar setiap hari, tidak seperti kamu.” Ibu menambahkan.
“Berapa nilai matematikamu? Aku dapat A.” aku menjawab dengan suara stabil.
Riku terdiam. “Kaito, kau tidak boleh seperti itu kepada adikmu! Dia masih kecil.” bentak Ibu.
Aku sudah biasa dengan propaganda ini. Seperti anak normal, sesekali nilaiku jatuh. Aku ingat wajah ibuku, ia tidak berekspresi, hanya tidak memandangku selama beberapa hari. Saat nilaiku kembali naik, ia biasa saja. Tidak ada selamat, tidak ada ibu bangga denganmu. Mulai pada moment itu, aku merasa hidupku bergantung ke ibuku. Lucu sekali bukan, ketika kita terbang dengan mulus, selalu ada seseorang yang membuat kita jatuh. Hal pertama yang mereka katakan adalah; “Kenapa kau jatuh?”. Malam itu, aku mengunci pintu kamarku. Aku terduduk di tengah kamarku. Untuk apa aku hidup jika tidak ada yang merasa aku penting? Mereka tidak melihat keringat, tangisan dan pengorbananku, hanya untuk mendapat restu. Aku ingin mengubah hidupku.
***
Aku mulai bekerja kepada Kuroda-san keesokan hari, setelah sekolah. Lagi-lagi, semesta memberikan tantangan kepadaku, hujan jauh lebih deras daripada kemarin. “Konnichiwa, Kuroda-san.” kataku sambil berbungkuk. Tuan Kuroda tersenyum dan menyerahkanku sebuah lap dan sapu. Aku mulai dengan menyapu toko selagi aku menjelajahi. Saat aku berkeliling- maksudku menyapu, aku menemukan satu barang yang terlihat sangat berbeda dari yang lain, sebuah topi pesta. Topi ini sangat familiar, membuatku penasaran. Aku mengulurkan tanganku dan menyentuhnya. Semua di sekelilingku mulai berputar sampai-sampai semua gelap. Aku membuka mataku dan aku berada di sebuah ruang tamu. Balon di udara, musik meriah, bau makanan lezat. Aku berada di sebuah pesta ulang tahun.
“Kaito-kun! Kau datang!” Itu Miyu, sahabat masa kecilku. Aku ingat sekali hari ini, hari ulang tahunnya. Hari di mana aku memilih untuk tetap di rumah karena aku takut. Aku takut dianggap tidak penting, takut disepelekan. Aku menghabiskan waktu dengan ayahku hari itu. Tapi di versi ini, aku ada di sini. “Ya! Aku tidak mau melewatkannya.” ucapku sambil tersenyum.
Di versi ini, rasanya aku dapat menggapai bintang. Aku telah mendapatkan sahabatku kembali. Aku merasa lebih baik sekarang, seperti satu bebanku sudah hilang. Dadaku lebih ringan. Hari itu, aku bersenang-senang seperti itu hari terakhirku di dunia ini. Untuk pertama kalinya, aku merasa seperti dunia dapat kugenggam. Malam itu, aku dan Miyu sendang duduk di bawah langit malam, di bawah pernak-pernik semesta. “Terima kasih sudah datang Kaito-kun.” Miyu berkata sambil tersenyum. Sebelum aku menjawab, dunia berhenti. Untuk sesaat, aku berdiri di sebuah ruangan gelap. di depanku, terdapat seorang lelaki kecil yang memiliki rambut sama sepertiku. Ia terduduk dan menutupi mukanya, menangis. Saat aku berusaha menghampirinya, semua hilang. Aku membuka mataku dan aku berada di toko antik kembali, tubuhku tergelempang di lantai dan hari sudah gelap. Aku cepat-cepat berdiri dan bergegas ke pulang. “Terima kasih, Kaito-kun!”, Kuroda-san berkata.
Di luar, udara malam dingin. Ketika aku berjalan menuju tempat tinggalku, aku melihat seorang gadis di depan halte bus. Itu Miyu. Aku belum berbicara dengannya sejak pesta ulang tahun itu. Miyu menoleh, “Kaito-kun, kenapa pulang malam?” katanya sambil tersenyum. Aku terdiam sejenak, mengapa dia tiba-tiba menyapaku?
“Uhm," otakku kosong, "Ya. Aku memulai pekerjaan di toko antik di sana. Uhm, Aku duluan ya, ibuku akan marah kalau aku pulang terlalu malam.”
Sesaat, aku mendengar Miyu mengatakan pelan, “Toko antik apa?”.
“Kau ke mana saja?” adalah kalimat pertama yang ibu tanyakan. “Aku baru selesai bekerja.” ibu terdiam selagi aku melepas sepatuku. “Ternyata kau masih belum kapok ya? Pergi tanpa memberi tahu. Sama seperti hari itu.”, aku menatap ibu dengan bingung. “Apa maksud Ibu?” otakku mulai berputar. Ibu tidak menjawab dan hanya menggeleng. “Di mana otosan?”, aku bertanya lagi. Mata ibu melembut tapi ia tidak menjawab dan masuk ke kamarnya. Ayah pasti sudah berangkat bekerja lagi. Ayah adalah seorang nelayan, ia tidak akan kembali sampai beberapa minggu lagi. Malam itu aku berbaring di kasurku. Aku mempunyai firasat buruk tentang hari ulang tahun Miyu. Walau aku merasa beban terangkat, aku merasakan satu beban lagi muncul.
***
Esok harinya, aku kembali di toko antik itu. Setelah menyapu dan mengelap debu dari barang-barang antik, aku menemukan diriku kembali di depan topi ulang tahun itu. Tanpa berpikir, aku menyentuhnya. Dunia kembali berputar, kepalaku pusing. Tiba-tiba, dunia gelap. Mataku terbuka. Aku menemukan diriku di depan rumahku. Hari sudah gelap. Di tangan kananku, ada sebuah tas bingkisan ulang tahun, ini adalah malam hari ulang tahun Miyu. Rumahku gelap, aneh sekali. Hari itu, ibu tidak di rumah tapi ada ayah di rumah. Harusnya ia sudah menyalakan lampu.
Udara jauh lebih dingin dari biasanya. Saat mendekati rumah, hatiku merasa gelisah, seperti ada sesuatu yang akan terjadi.
“Otosan! Aku sudah pulang!” aku berteriak, tidak ada yang menjawab.
Aku mengintip ke jendela, tidak ada orang. Jantungku berdebar lebih keras. Bergegas, aku berusaha membuka jendela yang ada di belakang rumah. Jendela itu biasanya tidak terkunci. Aku menaruh bingkisanku di dekat semak-semak dan bergegas masuk. Ada sesuatu yang tidak normal.
“Otosan!” Aku berteriak lagi dan mulai berkeliling.
Pintu kamar orang tuaku terkunci. Aku bergegas dan mencoba membukanya. Tidak berhasil. Aku mengambil kursi dan mendobrak masuk. Pintu pecah berkeping-keping. Saat melihat ke dalam, kakiku keram, terpaku, tidak kuat untuk menyangga duniaku. Aku jatuh terduduk.
Aku berteriak kencang, tapi serasa teriakanku tidak terdengar. Insting terakhirku hanyalah merangkak, mendekati tubuhnya yang dingin. Aku menangis di atas dadanya. Setelah menghabiskan tenagaku mengeluarkan air mata, aku berbaring di sampingnya. Aku mengangkat tangannya dan memosisikannya agar memelukku. Ayahku memilih untuk pergi. Caranya pergi yang tidak sepenuhnya dipahami olehku. Tidak ada pesan, catatan, hanya keheningan panjang yang menodai rumah. Tempat ini, sekali lagi, bukan rumah untukku, hanya sekedar tempat untuk menunggu hujan reda. Aku menyesal. Betapa bodohnya aku. Aku memaksanya mendengarkan cerita sepeleku. Sedangkan aku tidak melihat apa yang terjadi di balik senyumnya, di balik pelukannya, ada beban yang harus ia angkat. Di momen ini, seribu juta bebanku serasa jauh lebih ringan dibandingkan satu momen ini. Aku mendengar warga-warga sekitar berbicara, tapi aku hanya mendengar dengungan suara.
Aku kembali di toko antik. Tubuhku terjatuh ke belakang sambil memegang topi pesta keramat itu. Aku memeluk diriku. Dengan kekuatan terakhirku, aku merobek topi itu. Aku menuangkan semua amarahku kepada topi itu. Saat aku melihat topi itu sudah berkeping-keping, aku menginjaknya. Duniaku lebih hancur dari sebelumnya. Fisik topi itu sudah hancur.
“Harusnya aku memberitahu kepadamu, semua barang-barang di sini adalah hasil dari penyesalan orang lain. Jika mereka menyentuh barang yang mereka kenali, mereka akan diberi kesempatan memperbaiki kesalahannya. Tapi, salah melangkah, hancur masa depan.” kakek tua itu berjalan dan duduk di depanku. “Jika aku boleh memberi saran, jangan melihat ke belakang. Dalam perjalananmu, kau akan jatuh. Luka-luka bekas itu akan tetap di tubuhmu, tapi mereka akan sembuh cepat atau lambat. Tetaplah melihat ke depan. Tuhan tahu apa yang Ia lakukan.”, Kuroda-san tersenyum.
Sesuatu terjadi. Tiba-tiba dunia gelap lagi. Aku terduduk di teras sekolah. Percikan hujan dingin membangunkanku. Apa yang barusan terjadi? Aku melihat jam. Jarum jam menunjukkan pukul 16.30 di tanggal yang sama seperti hari di mana aku menemukan toko antik itu. Kepalaku pusing, aku bimbang. Karena aku, lagi-lagi, tidak ingin ibuku marah, aku bergegas berjalan ke rumah. Aku melewati jalan yang persis sama seperti yang aku lewati pada kejadian itu. Ketika aku melihat tempat tinggalku, aku mencari ke kanan dan ke kiri. Tidak ada toko antik itu. Aku meraih sakuku dan merasakan uang. 3,000 yen. Seperti perjanjianku dengan Kuroda-san. Mimpi? Aku tidak sepenuhnya mengerti.
Toko itu lenyap, membawa harta karun orang lain, terselip di sela dunia.
***