Turnamen tingkat nasional

Cerpen tentang menembus batas dirimu

2026-04-05 14:26:20 - japdul kece

Pada hari menegangkan ini, Alen dan tim volinya berdiri di lapangan super besar. Lapangan dengan standar PBVSI (Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia) Alen dan timnya mewakili provinsi Jawa tengah, kota Semarang. Alen sedari awal pesimis, menganggap dirinya tidak mampu karena ia hanyalah tim cadangan spike, karena spike utama sedang cedera akibat pertandingan di tingkat provinsi. 


“Aduh, aku hanyalah cadangan saja, latihan pun jarang…” batin Alen dengan gugup.


“Alen… Jangan mengecewakan kami!!” tegas pelatihnya.


“B-baik, coach. Saya akan melakukan yang terbaik.” ucapnya dengan gugup.


‘Alen memiliki passing yang bagus.’

Receive yang sempurna.’

Spike? Bola saja sering terkena net.’



Sebelum pertandingan dimulai, masing-masing tim berlatih selama 30 menit sebelum pertandingan disegerakan. Alen dan timnya mencoba spike secara bergiliran, saat giliran Alen melakukan spike, ia ragu-ragu untuk melompat tinggi, alhasil ia melompat hanya 2,57 meter saja dan ketika memukul bola, ia diblok sehingga gagal memasuki area seberang. Pelatih melotot melihat hal tersebut.

“Dasar tidak becus, spike macam apa itu!!” tatap pelatih dengan sinis.

“Maaf coach…” aku menunduk maaf.

Berkali-kali melakukan spike namun hasilnya nihil.


***


Waktu menunjukkan 10 menit lagi, timnya dibuat susah payah oleh Alen yang tidak becus dalam spike. Pelatih mulai frustrasi dengan ketidakmampuan Alen dalam melakukan spike, sehingga mereka berdoa untuk keajaiban. Lima menit sebelum pertandingan dimulai, Pelatih menyuruh kami berkumpul sejenak, memberi strategi dan motivasi.


“Ingat, kalian sudah berdiri di sini, tunjukkan semangat kalian dan guncangkan mental lawan, bukan mental kalian. PAHAMM?!” tegas pelatih sembari memberi motivasi.


“PAHAMM COACH, KAMI AKAN BERUSAHA SEMAKSIMAL MUNGKIN” teriak mereka dengan lantang, membuat stadion menggema oleh suara mereka.


“Berikan mentalitas kalian kepada mereka… ‘mengambil napas dalam-dalam’ JANGAN MENJADI LEMAH DAN PESIMIS. TERUTAMA KAU ALEN.” pelatih menunjuk Alen dengan jari telunjuk.


“SIAP COACH!!” teriakku dengan lantang.


“JANGAN MENGECEWAKANKU, ALEN…” menatapku dengan tatapan tajam.


Waktu 30 menit telah habis, timku dan tim lawan mulai bersiap-siap. Meregangkan tubuh mereka untuk menghindar dari cedera serius. Alen tampak gugup dengan sedikit memainkan jarinya sejenak, menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara teratur.


“Semoga bisa, walau…” aku menatap tim lawan yang tinggi-tinggi dengan tatapan pesimis, membuat diriku merasa tidak yakin untuk memenangkan pertandingan ini.


“Sepertinya timku akan dibantai dalam tiga set dengan score dua puluh lima.” batinku dengan tatapan pesimis.

 

Tim Alen mendapat servis pertamanya, Alen gugup ketika memegang bola voli yang berada di telapak tangan kirinya. Alen melambungkan bola ke atas, melompat dengan keraguan dan memukul bola dengan pelan, kecepatan bola itu sangat pelan, hanya 68,75 km/jam. Tim lawan menerima bola dengan mudah, dan setter lawan memberi umpan pada spiker lalu memukul dengan keras dan di-blocking oleh middle blocker, Setter mem-passing ke Alen dengan umpan lambung. Bola itu masih melayang, jarak antara kepala Alen dan bola voli itu sekitar 1,79 meter. Dan bola voli itu jatuh ke lantai, dengan itu membuat tim lawan mendapat poin pertama mereka. Rekan Alen menatap Alen dengan sinis, pelatih yang berada di bangku cadangan bersama pemain cadangan ikut geram.


“Dasar memalukan, bisa-bisanya dia melakukan hal-hal konyol seperti memukul angin seperti itu? Tidak ada pemain spiker lagi selain dia dan Farid.” mata pelatih menjadi merah dengan mengencangkan rahangnya sehingga menimbulkan suara “grek” ketika menekan giginya.


***



Tim Alen yang bernama Dirgantara Thunder itu memiliki skor dua-sepuluh sekarang, membuat Dirgantara Thunder ketinggalan delapan poin yang membuat pelatih dan seisi tim frustrasi dan kehilangan semangat dalam bertanding. Set pertama telah selesai dengan final skor DT dan AS yaitu lima banding dua puluh lima, kemenangan dalam set pertama untuk tim lawan yang bernama Aero Smash. Mereka istirahat selama 15 menit sekaligus menyusun strategi. Dirgantara Thunder melakukan diskusi untuk menyusun strategi.


“Kalian sudah bagus dalam pertandingan, kecuali Alen!!” pelatih menatapku dengan tatapan sinis, ingin sekali berteriak.


“Untuk kali ini kalian lakukan yang terbaik, saya sebagai pelatih sudah tidak mengharapkan lagi.” ucap pelatih dengan menghela napas panjang.



Aku melihat helaan napas ingin sekali berjuang dengan maksimal, bermain dengan kekuatan penuh, tapi, aku terlalu ragu karena ia dulunya hanya spiker cadangan yang tidak pernah bermain sama sekali selama pertandingan dari tingkat kota sampai tingkat provinsi, dan sekarang, aku berdiri untuk pertandingan tingkat nasional. 

Ini seperti menentukan hidup dan mati, terlalu dadakan untuk diriku yang belum memiliki pengalaman sama sekali.

“PRIITT,” peluit dari wasit berbunyi dengan keras, menunjukkan bahwa set kedua telah dimulai.


 ***



Dirgantara Thunder menerima servis pertama mereka, yang mengambilnya ialah Alen. Seperti biasa, Alen melakukan servis dengan sangat buruk sekali, baru sekali servis tapi masuk ke area timnya sendiri. Membuat seluruh tim Aero Smash tertawa dengan aksi servis yang Alen lakukan, seluruh tim Dirgantara Thunder beserta pelatihnya menjadi sangat malu. Alen bergumam pada dirinya sendiri.


“Dasar diriku yang tidak becus ini, kenapa melakukan servis busuk itu.” gumam diriku dengan sangat pelan.


Spiker Aero Smash ingin melakukan servis, ia berdiri dengan memegang bola di tangan kirinya. Ia melambungkan bola itu dengan sangat tinggi, ia mulai berlari dan mengambil ancang-ancang untuk melompat. Lompatannya mencapai 3,69 meter dan ketika memukul bola untuk servis bisa mencapai 138 km/jam. Ketika salah satu pemain Dirgantara Thunder ingin mereceive bolanya, ia sempat gagal dan bola memantul ke arah belakang, dengan reflek super cepatnya.

 Alen berlari sekuat tenaga lalu memukul bola ke arah tim lawan dan disambut oleh mereka lalu di-passing ke setter, setter kemudian memberi umpan kepada spiker AS dengan melambungkannya dengan ketinggian 5 meter dan… “BUMMM.”


suara bola menghantam lantai dengan sangat keras, suaranya bagaikan sebuah ledakan yang dahsyat, memekakkan telinga seluruh penonton. Poin tim Aero Smash bertambah seiring berjalannya waktu, membuat Dirgantara Thunder melakukan defense yang sangat intensive. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, setter Dirgantara Thunder lebih sering memberi umpan lambung ke pemain DT lainnya, tidak memberi Alen lagi sampai poin mereka bertambah hingga dua puluh untuk DT dan dua puluh dua untuk AS.

***



Di saat-saat seperti ini, Alen berusaha untuk menghilangkan keraguannya ketika sedang bermain. Ia selama pertandingan itu hanya melakukan receive dan passing saja, tidak melakukan spike dikarenakan timnya sudah tidak percaya lagi kepada Alen. Setiap detik, Alen terus mengutuk dirinya dan memberi semangat pada dirinya sendiri. Mentalnya sudah hancur untuk pertandingan ini, ia merasa bahwa dia tidak layak untuk bermain voli.

Namun, di dalam tubuhnya, ada sebuah kode genetik yang brilian, yaitu kode genetik atlet voli terbaik sepanjang sejarah dunia voli, yaitu ayahnya yang telah tiada.

Setiap otot-ototnya mulai beradaptasi dengan semua latihannya yang dulu-dulu, mengingat setiap gerakan dan kekuatan dari pukulan spike atau smash.


“Sepertinya aku harus menghilangkan segala keraguanku. Selamat tinggal, diriku yang dulu.” batinku dengan wajah datar.


Ketika poin dari Dirgantara Thunder mencapai dua puluh tiga berbanding dua puluh tiga juga. Membuat seisi stadion voli semakin tegang, terutama pelatih dan tim Dirgantara Thunder beserta pendukung Dirgantara Thunder, yang mengambil servis ialah…


“Alen, kau adalah penentu bagi kita semua, aku akan percaya padamu.” ucap salah satu timnya sembari memberi bola voli kepadaku dan menepuk pundakku.


“Kami serahkan nasib kita padamu, semangat Alen.” ucap setter Dirgantara Thunder dengan senyum mendukung.


“Baiklah, serahkan padaku” jawabku dengan mantap.


Alen berjalan dengan penuh percaya diri, ia mencoba menghilangkan semua keraguannya sampai tidak tersisa. Ketika berdiri untuk bersiap-siap, spiker Aero Smash tertawa mengejek dan berkata kepada timnya.


“Lihatlah dia, aku bertaruh 1 juta jika dia bisa servis ace.” ucap spiker lawan dengan tawa mengejek.


“HAHAHA, jangan gitu dong, nanti dia gugup loh.” ucap setter lawan diikuti tawa dari tim lawan.


“Huh, fokus Alen. Kamu tidak perlu mendengarkan mereka, fokus pada dirimu dan buktikan pada mereka.” batinku untuk memberi semangat dan sugesti pada diriku.


Alen segera menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan-lahan sehingga menciptakan kenyamanan dalam diri Alen dan ia mulai tersenyum.


Segera ia mulai melambungkan bola hingga 6 meter, setiap bola itu turun, Alen mulai mengambil ancang-ancang untuk berlari dan melompat. Ketika berlari dan siap-siap melompat, otaknya memberi sebuah ingatan masa lalunya ketika sedang berlatih voli dengan keras, ia sangat mengidolakan ayahnya yang dulu spiker yang dijuluki Red Thunder. Otaknya memberi sugesti pada dirinya untuk… LAMPAUI BATASAN DIRIKUU. Sekarang, ia sudah membuang jati dirinya yang lemah dan pengecut, kini ia berani untuk menembus batasan dirinya sendiri.


***



Alen segera melompat dengan sangat tinggi, seisi stadion tidak lagi fokus pada semua tim, akan tetapi fokus kepada Alen yang bagaikan burung elang, melompat dengan tinggi 4,99 meter. Itu sudah melampaui top lima spiker terbaik di seluruh dunia. Di saat Alen akan memukul bola dengan keras, semua tenaga dan power-nya terkumpul pada tangan kanannya.

Ketika bola itu dihantam telapak tangan kanan Alen. “JDARR” suara itu menggelegar seperti guntur yang hebat di dalam stadion, saking cepatnya bola itu melesat dengan 175 km/jam. Dan menghantam lantai area lawan, membuat bola voli itu memantul ke belakang dan memecahkan kaca yang berada di atas dinding stadion itu.

Alat pendeteksi kecepatan menjadi error ketika menghitung kecepatan jump servis Alen.


Servis macam apakah itu? Sungguh itu tidak masuk akal sama sekali.” ucap tim lawan dengan ketakutan saat menyaksikan kekuatan jump servis Alen.


“Jujur saja, seandainya aku bisa menerima bola itu dengan kedua tanganku, niscaya tanganku akan patah begitu saja.” ucap libero lawan dengan sedikit merinding saat memikirkan hal itu.


“Dia seperti Niswa, mantan spiker dengan julukan Red Thunder. Dan wajahnya mirip sekali, dia adalah Black Thunder.” ucap salah satu penonton dengan rasa kagum.


Dirgantara Thunder memimpin dengan poin dua puluh empat berbanding dua puluh tiga. Seisi tim Dirgantara Thunder bersorak bahagia kepada Alen.


“Kerja bagus Alen, aku tahu bahwa kamu adalah spiker spesial.” ucap setter timku dengan bangga diikuti dengan anggukan yang lain.


“Hehehe, sekarang kita balas mereka.” ucapku dengan percaya diri.


Saat Alen melakukan jump servis, ia melompat dengan tinggi 3,98 meter dan kecepatan spike mencapai 159 km/jam. Mereka imbang dengan set satu berbanding satu. Setelah 1 jam kemudian, Dirgantara Thunder memenangkan dengan set tiga berbanding satu.

Seluruh pendukung tim Dirgantara Thunder bersorak dengan sangat keras, membuat seisi stadion menjadi berisik dengan sorakan kebahagiaan. Pelatih berdiri di hadapanku dan tersenyum.


“Itulah potensi terbesarmu, kamu memiliki bakat seperti ayahmu yang telah tiada, Niswa. Kerja bagus, wahai Black Thunder” ucap pelatih dengan bangga.


Tim Dirgantara Thunder berdiri di atas podium dan mengangkat piala seraya berteriak.

“Hidup Dirgantara Thunder!!” ucap Alen dengan lantang.


“Hidup Dirgantara Thunder!!” diikuti oleh seluruh tim Dirgantara Thunder.



Sekarang foto mereka terpajang di seluruh dunia, mereka mengenal Alen sebagai Thunder spike. Mengisi top lima spiker dan mungkin akan berada di puncak.

 Ini bukan tentang bakat lagi, akan tetapi ini tentang mentalitas untuk menembus batasan diri sendiri. Berdiri tanpa keraguan dan berani untuk melewati semua potensi itu.



~TAMAT~



More Posts