Percaya Bahwa Tidak Ada Bodoh Melainkan Malas
selalu ada rencana "darinya"
2025-12-02 02:53:01 - ilhaaam~~
Ujian semester telah usai, yang ditandai oleh liburnya para murid dan kegiatan perpulangan akhir semester. Yang menunjukkan kenaikan jenjang berikutnya setiap murid. Untuk beberapa orang bagian spesialnya adalah mendapatkan guru, teman, dan lingkungan yang tak pernah disangka-sangka sebelumnya. Tak menunggu lama lagi pun Genom murid kelas 9 SMP akan melewati jalan barunya.
Suatu pagi yang cerah, seperti kebanyakan beberapa hari lalu, bagaikan air bah rasa semangat memenuhi kepala karena yang Genom inginkan akan tiba. Yakni ujian masuk madrasah, seperti membaca, menulis Al-Quran, dan seleksi akademik lainnya. Genom berhasil diterima dan sudah berada di Madrasah barunya dengan ujian masuk berupa nilai pas-pasan. Dengan harapan Genom akan bisa belajar mandiri, tidak bergantung pada orang lain setiap saat terutama pada orang tuanya. Masdrasahnya terletak di kota yang berbeda dan perlu ditempuh dalam dua jam melalui jalur darat. Itu tak membuat Genom risau, yang ada ia malah ingin bertemu dengan teman-teman barunya. Perjalanan panjang pun usai. Dengan ditemani oleh kedua orang tuanya, Genom pun memulai beberes barang-barangnya yang diselingi oleh sapaan dan gurauan dari murid lainnya.
Tiba di hari pertama bermadrasah, ia sebangku dengan teman barunya. Seingatnya, ia bernama Irul, “Rul rumah kau tu di mana?” tanya si Genom. “Ealah Genom ya, di sana tuh dekat pertelon Warung nasi rames depan nah”. “Ooo” Genom pun mangut-mangut, padahal isi otaknya kosong ketika mendengarnya. Pada siang harinya, dikarenakan ini Madrasah Al-Quran, maka setiap waktunya akan ada setoran hafalan setiap murid, yang sering disebut halaqah. Yaitu bertepatan pada waktu pagi, siang, dan malam. Dikarenakan Genom dan Irul satu kelompok halaqah, maka tak elak mereka semakin akrab dan dekat.
Halaqah pertama dilaksanakan di malam harinya dengan perkenalan singkat dan dilanjutkan setoran hafalan. Diawali oleh Irul yang langsung setor satu juz, sehingga waktu 1 jam pertemuan pun habis dipakai si Ambis. Walaupun Genom hanya memiliki hafalan Al-Quran setengah juz, Genom inisiatif untuk menambah waktunya mengaji hingga jam 10 malam. Yang di mana teman lainnya sedang bercanda gurau di kamar, sebagaimana mestinya keseharian di madrasah.
Angin malam memainkan jemuran ketika Genom berjalan di balkon setelahnya. Dan dilihatnya ruang kamar yang sudah mati dan teman-temanya sudah tertidur lelap, sehingga Genom pun merasa sungkan untuk menyalakan lampu-lampu kamar. Sehingga Genom melangkah ke kamar mandi dengan diselimuti kegelapan untuk persiapan tidur malam yang nyenyak. Untuk kemudian keesokan harinya bangun lalu beribadah dan belajar dengan semangat baru. Pagi harinya, “Yo, Yo, Yo bangun-bangun!”.
"DAR!" tiba-tiba lemari, pintu, dan ranjang berbunyi nyaring ketika dipukul oleh pengawas sekaligus guru dalam Madrasah tersebut, ialah Pak Emil.
Pria berumur kepala tiga, dengan postur badan tegap. Lulusan pondok terbaik di Indonesia dan tak diragukan ketegasannya lagi. Pak Emil mulai membangunkan anak-anak lainnya, yang masih “mengumpulkan nyawa” untuk segera ke surau, melaksanakan ibadah dan dilanjut berkegiatan pagi. Seperti sarapan, mandi, membuat susu sachet-lah, menyiapkan barang unfaedah-lah, atau bahkan langsung tidur setelahnya. KBM-pun segera dimulai setengah jam berikutnya yang disambut semangat oleh Genom seperti biasa.
Waktu kegiatan belajar pun tiba, tak dipungkiri kecerdasan Irul dalam menjawab dan memahami, dia memang juaranya. Alih-alih kebingungan dan sulit mencerna dalam mapel Matematika. Irul pun dengan “cakapnya” mengeksekusi tugas-tugas yang diberikan oleh guru yang seharusnya dijadikan tugas di pertemuan berikutnya. Situasi itu pun menjadi hal lumrah di beberapa mata pelajaran berikutnya. Lama-kelamaan guru-guru sudah hafal dengan tabiatnya yang susah dirubah dari irul itu sendiri. Kenapa “itu” seperti terlihat negatif padahal di mata temannya sangat ingin menjadi sepertinya? Karena setelah usai mengerjakanya, langsung dilanjut tidur tanpa merasa bersalah sedikitpun untuk menghargai guru-guru yang sedang menjelaskan di depan kelas.
180 derajat berkebalikan dengan Genom yang sedang merasa bahwa ini adalah masa tersulitnya dalam hal akademik. Walaupun dengan metode bertanya, menulis, atau bahkan sampai menggambar materi dengan sejelas dan semirip yang ada di papan tulis. Pernah Genom sekali dua kali bertanya kepada teman di sekitarnya yang sekiranya sudah “akrab”, muncullah juga beberapa tanggapan beragam dari temannya. Ada yang sama, saling tanya yang berujung kebingungan, ada juga yang malah mengejek mengolok-olok alih-alih membantu Genom. Pada akhirnya, hanya ada secercah manusia-manusia yang masih mempunyai hati nurani yang apik dan tulus mau meringankan beban berat yang dirasakan oleh Genom. Setelahnya ia mendapatkan cara terbaik dalam belajar, yaitu bertanya kepada teman yang tulus sekaligus genius tersebut. Tak ayal pada ulangan awal semester, Genom mendapatkan ranking 5 besar dari 25 orang temannya. Tak perlu menanyakan siapa yang top 1 di kelasnya, yang tak lain dan tak bukan adalah Irul yang memegang rata-rata nilai tertinggi yaitu 99,9. Kemudian ditanyakanlah oleh Genom, teman-teman, dan guru pun ikut penasaran. “Kenapa Rul bahasa Indonesiamu salah satu? Dan itupun satu-satunya yang salah dalam ujian kemarin! Ei!" Ditegaskan ulanglah apa yang salah, oleh salah satu Pak Guru yang ikut jagong di teras depan kelas. Yang mana memang waktu istirahat para murid untuk menghabiskan uangnya di koperasi. Lalu si Irul pun menjawab dengan pd-nya, “Yah itu mah sengaja karena saya gak mau menyamakan kesempurnaan ya Rahmat. Kata Irul dengan songongnya dan dibumbui sok agamis yang merupakan buah dari asal bunyi dari Irul.
Waktu halaqoh pun tiba yang dilaksanakan pula di depan kelas bagian teras, dikarenakan rimbunnya pepohonan dan angin sepoi-sepoi. Sekarang, Irul pun sudah menginjak juz kelima yang akan disetor sekaligus di ulang. Karena adanya program bagi seluruh siswa yang sudah lima, sepuluh, lima belas dan seterusnya harus di-tasmikan, yang rencananya juga secepatnya Irul akan tasmi’ juga, maka halaqoh-pun difokuskan untuk Irul. Dengan demikian, Genom dengan segala usahanya harus dan mesti mengaji. Menambah hafalan hingga ia bisa minimal tahun ini untuk tasmi’ seperti yang akan dilakukan Irul hari esok. Memang Genom “kurang” dalam kemampuan dalam akademiknya. Nonakademiknya pun juga tidak kalah menyedihkan. Tetapi setelah baru-baru ini, Genom akhirnya menemukan sebuah metode. Metode yang ia bincangkan dengan Pak Emil pada suatu waktu yang menemui jalan lurus. Bisa dikatakan satu-satunya metode yang efektif setelah Genom mencoba banyak di antaranya yang tidak cocok. Adalah metode istiqomah, walaupun menurut sebagian orang sangat susah untuk setiap harinya istiqomah, tetapi menurut Genom adalah yang paling ampuh untuk menaklukan kemampuannya yang minus untuk tumbuh menjadi karakter yang didamba-dambakan di madrasah tersebut.
Tak ayal setelah menginjak kelas 12 semester akhir, Genom dapat mencapai keinginannya untuk mengejar ketertinggalannya di kelas, dapat melaksanakan tasmi’ 10 juz dan masih banyak lainnya. Dan siapa sangka jika Genom adalah lulusan terbaik, dengan mendengarkan nasihat dari guru madrasahnya tak ada 1 jam durasi untuk waktu menceramahinya. Membuahkan berkah berkali-kali lipat, yaitu Pak Emil yang seolah matahari menyinari gelapnya saat jenjang SMA.
TAMAT