bencana alam
Indonesia, sebagai negara kepulauan yang terletak di cincin api (Ring of Fire) dan dikelilingi oleh lautan tropis, memang memiliki kerentanan tinggi terhadap berbagai bencana, baik geologis maupun hidrometeorologis. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, frekuensi dan intensitas bencana, khususnya yang dipicu oleh cuaca, menunjukkan peningkatan intensitas bencana yang mengkhawatirkan. Peningkatan ini tidak bisa lagi dianggap sekadar fluktuasi alam biasa, melainkan merupakan konsekuensi nyata dan mendesak dari perubahan iklim global yang semakin memburuk. Krisis iklim telah menjadi faktor utama yang memperparah kerentanan Indonesia, dan membutuhkan perhatian serius dari seluruh masyarakat di Indonesia.
Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) secara konsisten menunjukkan bahwa mayoritas kejadian bencana di Indonesia adalah bencana hidrometeorologi, yaitu bencana yang dipengaruhi oleh cuaca, seperti banjir, tanah longsor, kekeringan, cuaca ekstrem, dan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Pada tahun 2023, BNPB mencatat sekitar 99,35% dari total kejadian bencana di Indonesia didominasi oleh bencana hidrometeorologi (BNPB, 2023). Bencana seperti banjir, cuaca ekstrem, dan tanah longsor menduduki peringkat teratas. Bahkan, beberapa sumber menyebutkan bahwa hingga 80% bencana di Indonesia diakibatkan oleh perubahan iklim (UGM, 2013). Perubahan iklim telah mengganggu pola curah hujan normal di Indonesia.
Terjadinya bencana di Indonesia tidak hanya disebabkan oleh perubahan iklim, melainkan juga dikarenakan oleh pemanasan global, yang tidak lain terjadi karena deforestasi, asap industri, pengelolaan limbah yang tidak efektif, dll. Pemanasan global tidak hanya menyebabkan kenaikan suhu rata-rata, tetapi juga meningkatkan kemampuan atmosfer untuk menahan uap air, yang berujung pada peningkatan curah hujan ekstrem. Pemanasan global menyebabkan peningkatan kejadian cuaca ekstrem, seperti badai yang lebih kuat, gelombang panas yang lebih lama, dan pola curah hujan yang tidak menentu (BMKG, 2025).
Banjir dan tanah longsor: peningkatan intensitas hujan harian telah memicu bencana banjir besar dan tanah longsor di berbagai wilayah, termasuk di Sulawesi Tengah yang dilaporkan mengalami peningkatan curah hujan rata-rata tahunan sebesar 15% dalam 20 tahun terakhir, dengan puncaknya mencapai intensitas 150–200 mm/hari pada musim hujan (BMKG, 2025). Di sisi lain, anomali iklim seperti El Niño menyebabkan musim kemarau yang sangat panjang dan kering, memicu bencana kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang parah, seperti yang terjadi pada tahun 2019 (BNPB, 2023).
Peningkatan bencana hidrometeorologi secara langsung berdampak buruk pada kehidupan masyarakat dan stabilitas negara. Kerugian yang ditimbulkan mencakup korban jiwa, kerusakan infrastruktur, hingga kerugian pada sektor ekonomi, terutama pertanian.
Bencana seperti banjir dan kekeringan mengancam ketahanan pangan karena perubahan pola hujan menjadi kendala besar bagi para petani yang ingin menentukan musim tanam, bahkan menyebabkan gagal panen yang drastis (Kemenkes, 2016). Selain itu, kerusakan infrastruktur seperti rumah dan fasilitas umum, membutuhkan biaya pemulihan yang sangat besar, memperlambat pembangunan dan memperparah ketidaksetaraan sosial-ekonomi (Validnews, 2024).
Keterkaitan antara perubahan iklim dan peningkatan bencana hidrometeorologi di Indonesia memiliki korelasi sebab-akibat yang tidak terbantahkan. Kejadian-kejadian seperti banjir, tanah longsor, dan kekeringan yang semakin sering dan intensif merupakan manifestasi dari krisis iklim yang nyata. Oleh karena itu, mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim harus menjadi agenda prioritas nasional, tidak hanya di atas kertas, tetapi juga dalam implementasi kebijakan yang ambisius dan berbasis bukti. Diperlukan tindakan tegas terhadap perusakan lingkungan, seperti pembalakan liar dan alih fungsi lahan yang memperburuk dampak bencana, serta penguatan sistem peringatan dini dan edukasi publik. Mengabaikan krisis iklim sama dengan membiarkan masa depan Indonesia terancam oleh kehancuran bencana yang tak terhindarkan.
Daftar Pustaka
r.a kartini adalah salah satu pahlawan besar indonesia