Ruiva dan Eiv: Kecelakaan
Aku memiliki sahabat; ia berasal dari Vemnesia, tempat penuh dengan api, lava, dan aktivitas vulkanik. Tempat itu memiliki kehangatan yang tak akan pernah berakhir. Kami berdua ini berbeda. Aku berasal dari Lyrandeluvia, sebuah tempat penuh dengan pohon, dedaunan, dan bunga-bunga indah. Lyrandeluvia mencakup 6 hutan berbeda. Kami berdua sering bermain di Hutan Ashenveil karena hutan ini merupakan hutan terdekat dari Vemnesia.
Kini aku sedang bersandar di atas pohon menunggu kedatangan sahabatku. Biasanya ia datang tepat waktu, namun kali ini ia terlambat. Aku sudah menunggu 12 menit dari jam pertemuan biasa kami. Aku harap ia akan datang, karena ia tidak pernah melanggar janjinya. Beberapa menit kemudian, aku melihat ada sedikit cahaya dari jauh. Penasaran, aku turun dari pohon menggunakan kekuatanku dan segera menghampiri sumber cahaya itu. Ketika sudah mulai mendekat, muncullah sosok yang sudah lama kutunggu-tunggu.
“Hai, Eiv!” serunya.
“Ruiva! Akhirnya kamu tiba. Aku sudah lama menunggu, tau.”
“Hehe, aku minta maaf. Akan kuceritakan mengapa aku datang terlambat.”
***
Setelah mendengar cerita dari Ruiva, aku jadi paham mengapa ia datang terlambat. Ternyata hari ini adalah hari di mana ia mendapatkan hak khusus dari rasnya. Hak yang hanya didapatkan oleh orang-orang tertentu dan terpilih, yakni kekuatan elemental. Dulu aku pun merasakan hal yang sama, oleh karena itu aku bisa menggunakan kekuatanku tadi. Aku ikut senang jika Ruiva senang. Semoga dia tidak menggunakan kekuatannya untuk tujuan jahat, karena aku tahu Ruiva merupakan sahabat baik.
***
Kami berdua main selama berjam-jam. Entah sekarang jam berapa. Yang awalnya siang kini menjadi malam. Langit menampakkan ratusan bintang bercahaya rapi nan indah. Sinar terang dari rembulan menerangi keadaan hutan. Kami berdua duduk di ujung tebing sembari menatap langit malam cantik. Ruiva terbaring di atas rerumputan tebal di sebelahku. Rambut putihnya terlihat elok dengan kulit merah eksotis. Dari awal aku sudah curiga bahwa ia akan dikaruniai hak khusus karena kepribadiannya yang baik. Aku sangat bersyukur kita bersahabat. Aku harap ia tidak akan pernah mengkhianatiku.
***
“Eiv, sepertinya ini sudah larut malam. Mari kita pulang ke tempatmu,” ujar Ruiva jelas.
“Baiklah. Mari ikut aku,” jawabku ringan. Tampaknya aku mulai mengantuk.
Kami berdua berjalan kembali menuju hutan gelap, tetapi dengan api dari Ruiva, jalan menjadi terang. Dengan mudah kami melewati semak-semak rimbun, pepohonan lebat, dan bunga-bunga yang sedikit mengeluarkan cahaya. Terdapat kunang-kunang di sini dan di sana. Aku sungguh mencintai hutan ini.
Sudah beberapa menit kami berjalan melewati hutan. Sebentar lagi kami sampai di tempat tinggalku. Akan tetapi, Ruiva berhenti mendadak. Aku baru sadar ketika dia tidak lagi di sampingku. Mukanya mengeluarkan ekspresi panik dan cemas. Dia menggumamkan kata-kata yang tak bisa kupahami. Ternyata sebuah pohon terbakar. Tiba-tiba pohon yang lain ikut terbakar dengan cepat. Bahkan semak-semak pun ikut berkobar. Hewan-hewan berlari ketakutan.
Mataku melotot. Aku tidak percaya ini sedang terjadi. Seluruh isi dari Hutan Ashenveil tidak boleh ikut terbakar. Aku melarangnya. Adrenalin dalam tubuhku meningkat drastis, sehingga aku mampu menciptakan tanaman tebal raksasa di luar kemampuanku. Tanaman-tanaman yang telah kuciptakan sanggup mengurangi api untuk menyebar. Konsentrasiku bertambah. Kubuatkan lagi puluhan tanaman tebal raksasa dalam bentuk apa pun. Keringat mulai menetes dari kepalaku. Aku harus bisa demi Hutan Ashenveil dan Lyrandeluvia.
Aku terengah-engah selepas berhasil memadamkan api dengan tanaman. Kedengaran tidak masuk logika, tetapi kenyataannya begitu. Sayangnya beberapa pohon tak dapat diselamatkan. Mereka hangus dilahap api. Aku terjatuh dalam posisi duduk. Ruiva segera menghampiriku lalu memelukku. Keadaan matanya bengkak akibat menangis tersedu-sedu.
“Eiv, aku sungguh minta maaf, apiku tidak sengaja mengenai salah satu pohon yang kulewati. Aku minta maaf… aku berjanji tidak akan ceroboh lagi!” Dia mengantarkan kata maaf sampai seribu kali. Aku tersenyum lelah dan menjawab, “Tenang saja, Ruiva. Aku memaafkanmu.”