blablablibliblublu 1 month ago
blablablibliblublu #bahasa

Galaksi di Atap Seribu Rumah

CERPEN

Di kota fiktif Kebayoran Lama, malam bukan lagi teman, tapi musuh yang haus akan cahaya. Seribu rumah di perbukitan curam lembah hijau yang lembab terperangkap dalam kegelapan selama seribu hari lamanya, akibat sumber cahaya yang telah padam secara tiba-tiba tanpa aba-aba.Gang-gang sempit yang dahulu banyak suara tawa anak-anak dan pedagang, kini sepi bak kuburan. Warga lapar, marah, dan saling tuding. Arga anak STM Berusia 16 tahun dengan rambut acak-acakan, duduk di atas rumah reyotnya, memandang langit yang gelap dan tanpa bintang. Di tangannya, dia memegang botol plastik bekas dan kaleng minyak jelantah dari warung tante Lina. Kalau "Pemerintah tak segera datang, aku bikin terang sendiri." gumamnya.


 Arga bukan anak yang menyerah pada nasib. Di kamar kecilnya, dinding-dinding bernyanyi dengan sketsa alat listrik dari rongsokan: kipas angin yang lahir dari dinamo tua dan senter yang tersenyum dari baterai bekas. Ayahnya, tukang las yang kini terbaring bagai pohon tua yang meranggas, pernah berkata, "Arga, tanganmu adalah suling ajaib. Mainkan lagu untuk orang lain. Malam itu, di bawah naungan buku fisika yang setia, Arga meracik lilin dari botol, minyak jelantah, dan sumbu kain lap. Tiga kali dia gagal. Minyak menangis tumpah, sumbu tersedak asap, tapi akhirnya nyala kecil lahir, kuning pucat bagaikan matahari bayi yang malu-malu.”Hidup!” serunya, wajahnya bercahaya seperti danau yang mencium sinar bulan. Dia naik ke atap, meletakkan lilin itu di seng yang bernyanyi pelan dan memandang ke bawah. Satu titik cahaya, kecil namun gagah seperti prajurit melawan lautan gelap.


Di jendela kelas SD sebelah yang retak bagai hati yang terluka, seorang guru berusia 35 tahun bernama Sari menangkap kilau itu. Sebagai ibu muda dengan anak kecil yang rewel di malam kelam, dia tahu Kebayoran Lama rapuh seperti daun kering di ujung musim. Harga beras melonjak bagai elang yang terbang, warung tante Lina kehabisan stok seperti sumur yang kering, dan murid-muridnya meratap tanpa lampu untuk membaca buku pelajaran.

’’Cahaya apa itu?’’ bisik Sari. hatinya tersentuh seperti tali biola yang disentuh lembut. Pagi itu dia mengetuk pintu rumah Arga, membawa sebotol air sebagai tameng.

"Kamu bikin lilin itu sendiri Arga?" Tanyanya sambil menunjuk botol yang meleleh yang tidur di meja kayu.

"Iya, Bu," jawab Arga kikuk seperti anak rusa yang berdiri di depan singa, "cuma coba-coba dari minyak bekas".


Coba-coba yang menari di kegelapan! Sari tersenyum lebar seperti matahari pagi.

"Saya mau ajak warga bikin lilin massal. kamu ikut, ya? Nyala pertamamu adalah bintang yang bisa menyalakan seribu rumah!"

Arga mengerutkan kening menunjukkan keraguannya. "Warga mana mau dengar anak STM miskin kayak aku? Pak RT bilang aku cuma ingusan yang bermimpi. Tante Lina bilang minyak jelantah buat masak, bukan buat main-main. Orang kaya punya genset sedangkan aku hanya punya lilin kecilku?”

"Percaya pada Ibu," tegas Sari. Matanya berkilau seperti berlian. ”Satu percikan bisa membakar hutan harapan. Kita bisa mulai malam ini di lapangan sekolah.”

***


Malam itu di lapangan sekolah yang gelap seperti rahasia malam, Arga memperlihatkan caranya membuat lilin. Pertama dia menuang minyak jelantah yang licin seperti sungai kecil, memasang sumbu, dan menyalakan api yang menari-nari bak tarian yang bercahaya di dalam kegelapan. Hanya belasan warga datang. Ibu-ibu, tetangga Sari dan Om Budi, dan sopir ojek yang motornya lumpuh tanpa bahan bakar. "Ini beneran nyala Nak?" Tanya Ru Rina, penjahit yang pekerjaanya mati bagai bunga tanpa air.

“BENER, BU!” Jawab Arga, menunjukan botolnya. "Cuma butuh botol bekas sama minyak dari warung.”

Esoknya, sepuluh rumah di gang Arga menyalakan lilin di atap, cahaya kuning bermunculan seperti kunang-kunang yang bangun dari mimpi buruk. Malam berikutnya seratus rumah ikut, menerangi perbukitan dan lembah bagaikan bintang-bintang yang jatuh ke bumi. Tapi tak semua warga terpikat. Di balai warga, Pak RT mencibir, "Arga ini main-main! Lilin apa lawan genset yang berdengung? Pemerintah bilang besok sudah nyala".

"Pak lihat gang tadi malam?” bantah sari, suaranya seperti lonceng yang bergema, "Seratus lilin sudah menyanyi. Bayangkan seribu!”


Tante Lina, menyapu warungnya yang sepi, ikut nyiyir. ”Arga, minyak jelantah buat masak, bukan buat lilinmu. Warungku sudah seperti kuburan, jangan tambah repot!”

"Bu, cuma sedikit minyak,” pinta Arga dengan tatapan matanya yang memohon.”Satu lilin bisa ubah malam jadi sahabat.” 

“Ubah malam? Hmph, anak kecil bermimpi besar!" Tante Lina mendengus. 

Warga kaya di bukit lebih sinis, suara genset mereka mengaum seperti singa. "Kami punya solusi sendiri,” kata mereka di perkumpulan warga kaya. "Lilin buat orang miskin di lembah!” kata mereka dengan congkak.

Arga goyah, hatinya seperti kapal kecil di badai yang besar. Di kamarnya dia menatap lilin meleleh yang menangis. "Mungkin Pak RT benar, Bu." katanya pada Sari yang datang membawa nasgor hangat. "Aku cuma anak kecil. Satu lilin tak bisa lawan kegelapan yang lapar."

Sari duduk di kursi bambu, suaranya lembut seperti embun. "Arga, dulu Ibu ragu saat banjir. Tapi satu orang mulai lalu semua ikut. Lilinmu sudah menari di ratusan atap. Kita buat rapat malam di lapangan, kamu pimpin. Oke?" tegas Sari.

"Aku? Bicara di depan banyak orang?" Arga menelan ludahnya, jantungnya berdetak seperti genderang perang.

“Kamu yang menyalakan bintang pertama, kamu selesaikan,” tegas Sari. "Ibu bantu.”

Malam itu lapangan sekolah ramai seperti lautan manusia. Ratusan warga datang dengan botol bekas di tangan. Arga berdiri di kerumunan, suaranya gemetar seperti daun ditiup angin. "Kegelapan ini bukan cuma cahaya yang lari,” katanya, ”Kita lupa saling peduli. Satu lilin per rumah, pukul tujuh besok malam kita ciptakan lautan cahaya yang mengguncang langit!”

“Arga, ini serius?” tanya Om Budi, memegang botol. "Bisa bikin beda?"

“Bisa, Om.” jawab Arga mantap. Semangatnya seperti api yang berkobar. "Satu lilin kecil tapi seribu, jadi raksasa yang menari di tengah kegelapan."

Sari menambahkan, "Besok, aku dan Arga ke bukit sekolah, buat peta cahaya. Kita tunjukkan Kebayoran Lama punya nyawa sendiri."

"Kalau gagal?” tanya Bu Rina, suaranya ragu seperti bayangan.

"Tak akan gagal kalau kita bersama,”Jawab Sari, tegas seperti batu karang. "Siapa ikut?"

“Aku!” teriak anak kecil dari kerumunan. Sorak warga menggema seperti ombak yang menghantam pantai.

Malam ke-1000 tiba, bagaikan babak akhir dalam dongeng kuno. Arga dan Sari di bukit sekolah, napas mereka membeku di udara dingin. Pukul 19.00, lilin di atap Arga menyala, seperti bintang pertama yang menantang malam. Lalu sepuluh, seratus, seribu. Perbukitan dan lembah berubah menjadi galaksi darat, cahaya kuning yang menari-nari begitu terang hingga pilot pesawat pesawat di atas kebayoran lama terpana, pesawatnya melambat seolah langit bumi telah mencuri hatinya.

Tiba-tiba, cahaya kembali menyala pelan, seperti mata baru terbuka. Truk teknisi dari pemerintah datang, menawarkan janji manisnya.. Warga berkerumun, tapi Arga dengan lilin di tangannya berkata, "Kebayoran Lama sudah mempunyai cahaya dari 1000 atap, Pak."


“Anak ini!” teknisi tertawa, kagum. “Kalian hebat, seperti bintang di daratan!”

Sorak warga mengguncang malam bagaikan gempa. Pak RT, matanya berkaca-kaca seperti embun pagi, berkata, “Arga, maafkan saya. Ini lebih dari listrik tapi ini adalah hati yang bersatu.”

Tante Lina berlari, membawa kaleng minyak. “Buat lilin besok!” katanya, tersenyum lebar. “Warungku terang lagi gara-gara kau, Nak!”

Warga kaya dari bukit turun, botol di tangan. “Ajari kami, Arga,” pinta salah satu dari mereka, suaranya rendah seperti sungai yang merendahkan diri. “Kami mau jadi bagian dari galaksi ini.”

Malam itu, Arga di atap rumahnya, menyalakan lilin terakhir yang berkelip seperti mata harapan. Sari datang dengan teh hangat, uapnya menari di udara. “Satu anak cukup memulai,” katanya, menatap langit yang kini penuh bintang buatan.

“Dan seribu lilin lahir dari satu tangan,” jawab Arga, dadanya hangat seperti pelukan matahari.

Kebayoran Lama tak lagi sama. Kegelapan seribu hari bagai guru bijak yang mengajarkan persatuan. Di setiap atap, lilin menyala sesekali, seperti nyanyian abadi bahwa cahaya terbesar lahir dari tangan yang saling menggenggam di tengah badai.

                                                               

                                                                      TAMAT



BISIKAN PULANG

BISIKAN PULANG

https://lh3.googleusercontent.com/a/AAcHTtfeCfIpCmTFJNkMF-m9B58WEnZ3nw9CZDNOy9o2UJLWqA=s96-c
Fifahaulia
1 year ago
Sejarah Berdirinya Negara Saudi Pertama

Sejarah Berdirinya Negara Saudi Pertama

1707266435.jpeg
✯♥ᛋᛋ𝔄v𝖎𝖓𝔬ᛋᛋ♥✯
2 years ago
Nasionalisme

Nasionalisme

1694005863.jpg
Fadil
1 year ago
Bagaimana Kuku Bisa Tumbuh?

Bagaimana Kuku Bisa Tumbuh?

1740469032.jpeg
ainun
2 years ago