Pagi itu terasa sangat sunyi. Oliv terbangun oleh panggilan speaker yang ditujukan untuk para peserta lomba Kompetisi Sains Terbuka. Ia sempat menoleh untuk melihat teman-temannya yang masih tertidur pulas. Sebenarnya, ia masih ingin lanjut tidur. Akan tetapi, Oliv teringat bahwa temannya yang bernama Adira meminta tolong kepada dirinya untuk dibangunkan pukul 07.00 pagi sehingga ia memutuskan untuk tidak melanjutkan tidurnya itu. Ia segera turun dari kasurnya dan mengambil buku yang ingin dibacanya lalu mulai membaca di tangga menuju rooftop.
Saat sedang membaca bukunya, Oliv melihat jam yang ia gunakan sudah menunjukkan pukul 07.00. Oliv segera ke kamar untuk membangunkan Adira. “Adira, bangun, sudah jam 07.00,” kata Oliv sambil mengguncangkan tubuh Adira. Adira membuka matanya dengan keadaan setengah sadar. “Nanggung 07.30,” ucap Adira kemudian lanjut tidur. Oliv mengiyakan sambil merapikan barang-barangnya. Sebenarnya Oliv tidak suka diperlakukan seperti itu. Namun, ia tidak dapat mengatakan itu kepada Adira dan tetap membangunkannya walaupun Adira tetap tidak terbangun.
Karena Oliv sudah kesal menghadapi Adira, ia pun memutuskan untuk meninggalkannya ke bawah untuk makan sambil membaca buku yang ia baca sedari pagi. Setelah berhasil menghabiskan sarapan dan menamatkan buku yang dibacanya, Oliv memutuskan untuk mengambil chromebook miliknya di ruang chromebook. Ia mencari film horor yang belum pernah ia tonton untuk ditonton. Oliv tetap stay di ruang makan sampai jam 13.10 sambil menonton beberapa film horor. Oliv kemudian memutuskan untuk ke asrama setelah melaksanakan shalat dhuhur dan mengambil handphone miliknya.
Namun, ternyata handphone miliknya baru akan diberikan kepada Oliv jam 15.00 karena Oliv tidak turun ke mushola untuk melaksanakan shalat subuh berjamaah pagi tadi. Karena bosan Oliv memutuskan untuk bernyanyi di kamarnya sambil meluapkan amarahnya ke Ablalar dan Adira. Setelah bernyanyi cukup lama, Oliv lama-kelamaan merasa bosan. Oliv melihat ke arah jendela yang sudah basah karena terkena air hujan yang cukup deras. Saat sedang menikmati suasana, tiba-tiba Adira masuk ke kamar. Entah kebetulan atau bagaimana, Oliv berpikir untuk mengajak Adira hujan-hujanan di rooftop.
“Adira, hujan-hujanan yuk di rooftop,” ajak Oliv.
“Ngapain?” tanya Adira heran.
“Gak papa, ayo mumpung lagi sepi gak ada orang,” bujuk Oliv.
“Iya sih… ayuk! Aku ada kamera nih! Mau dipake gak? Buat video sama foto-foto,” tawar Adira sambil menjentikkan jarinya.
Oliv dan Adira segera keluar ke rooftop secara perlahan dan diam-diam.
Sesampainya di rooftop, Adira mengeluarkan kamera miliknya dan mulai merekam. Mereka pergi ke area tengah rooftop yang lebih terkena air hujan dan mulai bermain bersama di rooftop. Mereka bermain di rooftop mulai dari jam 13.50 sampai jam 15.30 lamanya. Setelah itu, mereka kembali ke kamar mereka untuk menghangatkan diri karena mereka kedinginan selama di rooftop. Setelah itu, mereka membicarakan tentang keseruan mereka saat di rooftop sambil melihat hasil rekaman dan foto-foto mereka.
Mereka menghangatkan diri di kamar sampai dengan jam 16.05. Oliv segera keluar kamar untung mengambil handphone miliknya yang seharusnya sudah dikembalikan sedari tadi. Namun, saat ia melihat ke tempat handphone, ia tidak dapat menemukan handphone miliknya. Oliv terlihat geram dengan Ablalar karena seharusnya handphone miliknya sudah ada tapi sampai saat itu ia masih tidak menemukan handphone-nya.
Oliv mengetuk kamar Ablalar berkali-kali tapi sepertinya Ablalar sedang tertidur dan tidak mendengar ketukan itu. Setelah Oliv mengetuk kamar Ablalar dengan lebih keras selama beberapa kali, baru ada abla yang membukanya. Oliv meminta untuk handphone-nya diberikan baru abla memberikan handphone miliknya. Setelah berhasil mendapatkan handphone-nya ia segera membuka WhatsApp kemudian memberi beberapa pesan kepada ibunya. Setelah itu Oliv segera turun ke lantai 3 untuk mencari wifi.
Setelah berhasil mendapatkan wifi, Oliv segera menghubungi adiknya untuk mengajak bermain game online. Tidak terasa Oliv sudah bermain game online selama 1 jam dan sekarang sudah saatnya untuk mengumpulkan handphone-nya. Oliv menaiki tangga menuju lantai 4 sambil tetap bermain handphone. Oliv mengembalikan handphone-nya lebih lambat karena ablalar juga terlambat memberikan handphone miliknya.
Tidak terasa waktu sudah berlalu 1 jam. Ablalar menyuruh anak-anak turun ke mushola untuk melaksanakan shalat maghrib. Oliv turun bersama temannya untuk makan baru kemudian menuju ke mushola untuk shalat. Seharusnya setelah shalat maghrib akan ada program asrama. Namun, karena Ablalar melihat anak-anak kelelahan dan tertidur di mushola, Ablalar pun memutuskan untuk membiarkan mereka beristirahat sejenak di sela-sela maghrib dan isya itu.
Saat sedang tidur dengan nyenyak, tiba-tiba terdengar suara adzan isya dari speaker. Ablalar membangunkan anak-anak dan menyuruh untuk berwudhu kembali setelah tidur. Setelah semuanya siap, Ablalar pun memulai shalat isya berjamaah itu. Tasbihat isya itu terasa cukup singkat dan mereka segera menuju ke kelas masing-masing untuk melakukan etud.
Seharusnya Oliv belajar dan mengerjakan tugas-tugas yang belum ia selesaikan tapi karena kecapekan, Oliv malah tertidur dengan menaruh kepalanya di atas meja yang beralaskan tangannya. Oliv benar-benar tidak terbangun selama 90 menit itu. Oliv bahkan tidak sempat membuka buku sama sekali. Oliv baru terbangun setelah dibangunkan Ablalar dan disuruh untuk segera ke kamarnya dan beristirahat di sana. Oliv malu karena di saat teman-temannya belajar dan mengerjakan tugas ia malah tertidur sampai jam etud selesai, namun ia tetap mengiyakan abla dan segera menuju ke kamarnya dan langsung tidur.
Esok paginya Oliv bangun karena dibangunkan Ablalar untuk ke mushola dan melaksanakan shalat subuh berjamaah. Karena saat malam Oliv langsung tertidur, Oliv tidak sempat menyiapkan surah yang akan ia setorkan saat pagi hari. Oleh karena itu, Oliv kembali ke kamar sangat telat karena sibuk menyiapkan surat yang akan dia setorkan walaupun pada akhirnya hanya dapat beberapa ayat dari 1 surah yang sedang ia hafalkan.
Saat sampai sudah sampai di kamar, Oliv melihat temannya masih tertidur sangat nyenyak sehingga ia pun tergoda untuk tidur lagi. Oliv dan temannya itu ternyata baru terbangun saat dibangunkan oleh temannya yang lain yang mengira bahwa mereka berdua sedang sakit dan tidak akan berangkat sekolah. Oliv dan temannya panik dan langsung bersiap mandi sambil berlari-lari karena sudah hampir terlambat. Setelah berberes kamar dan barang-barang, mereka segera turun ke bawah untuk sarapan.
Mereka mengambil sarapan sangat sedikit dan makan dengan sangat terburu-buru. Tak lama kemudian, di saat mereka sedang makan tiba-tiba wakil kepala sekolah datang dengan cepat sambil berteriak menyuruh seluruh siswa dan siswi untuk ke lapangan dan mengikuti upacara. Oliv dan temannya panik dan langsung keluar dari ruang makan tanpa menghabiskan sarapan mereka. Tepat saat mereka keluar dari ruang makan ternyata wakil kepala sekolah itu sudah sampai di depan pintu ruang makan sambil menatap mereka dengan sedikit sinis seolah berkata bahwa jika mereka terlambat mengikuti upacara lagi, mereka akan dihukum habis-habisan.
Itulah akhir kisah Oliv yang paling menyeramkan di sekolah baru sekaligus rumah barunya. Ternyata tinggal di asrama yang jauh dari rumah ada masa-masanya menyenangkan dan ada juga masa-masanya menyedihkan. Di ruang sempit sebuah asrama, kita juga dapat menemukan dunia persahabatan yang tidak terhingga.